Pertumbuhan gedung-gedung tinggi atau gedung pencakar langit (Skyscraper) merupakan indikator dari pertumbuhan kota (negara) baik secara ekonomi, sosial maupun budaya, sehingga mendominasi wajah suatu kota, tak terkecuali dengan kota-kota yang ada di Indonesia. Kelahiran gedung-gedung tinggi tersebut adalah akibat perkembangan kebutuhan akan ruang-ruang untuk beraktifitas yang terus meningkat sedangkan lahan yang tersedia adalah tetap serta memusatnya kegiatan ekonomi pada suatu kawasan (Central Business District) mengakibatkan pertumbuhan kota secara vertikal.

Solusi seperti ini selain akan mempersingkat jarak, juga mempersingkat waktu. Kelahiran gedung-gedung tinggi merupakan suatu revolusi arsitektur yang ditunjang dengan kemajuan teknologi dan tetap berpedoman kepada prinsip dasar arsitektur yaitu ruang bentuk dan fungsi sehingga memenuhi syarat untuk ditempati (habitation).

Secara garis besar perkembangan gedung-gedung tinggi dapat dikelompokkan pada Periode Sebelum Perang Dunia II dengan stream Fungsionalism, Gaya Eklektik, Gaya Art-Deco dan Periode Setelah Perang Dunia II dengan stream The International Style, Gaya Post-Modern.
Pengelompokan ini didasarkan atas perubahan yang sangat signifikan baik pada perwajahan arsitektur maupun dalam penerapan teknologi konstruksinya.


Perkembangan gedung-gedung tinggi ini juga ditunjang oleh teknologi yang lahir sebelumnya yaitu dengan ditemukannya Elevator oleh Elisha Graves Otis pada tahun 1852 dan juga dengan ditemukannya konverter baja rancangan Sir Henry Bessemer tahun 1856 yang mampu menekan biaya struktur baja. Walaupun baja telah populer sebagai konstruksi pada tahun 1830. dan digunakan sebagai konstruksi jembatan pertama kali pada tahun 1777 pada ‘The Ironbridge’, di Coalbrookdale, disungai Severn, Shropshire, Inggris yang dibangun oleh Abraham Darby.

PERIODE SETELAH PERANG DUNIA II

Ketika terjadi Perang Dunia II (1940-1950), era pembangunan gedung-gedung tinggi juga terhenti. Selain menghancurkan perekonomian juga membawa perubahan terhadap wajah dunia pada pasca perang tersebut.
Penampilan bangunan menjadi lebih sederhana dengan bentuk kubus dengan rangka bangunan yang diselimuti gelas dan miskin ornamen (hampir tidak ada), yang terlihat hanya garis-garis vertikal dan horizontal yang kaku dan oleh Bruno Taut dikatakan sebagai karya gambar anak-anak.

Dimulai dengan bangunan ‘Lever House’, karya arsitek Gordon Bunshaft (1952) dan diikuti oleh bangunan terkenal ‘Seagram Building’, di New York, karya arsitek Mies Van Der Rohe dan Philip Johnson dengan ketinggian 38 lantai. Mies van der Rohe adalah arsitek imigran Jerman dan dianggap sebagai pencetus ideologi baru dari penampilan arsitektur yang fungsional dan ekonomis sebagai inspirasi dari Bauhaus yang didirikan Walter Gropius di kota Wiemar, Jerman, tahun 1919 dan ketika pindah ke kota Dessau tahun 1926, Mies van der Rohe pernah menjadi direktur Bauhaus (1930-1932).

Penampilan bangunan dengan bentuk ini mengakibatkan terjadinya persamaan bentuk dan menimpa negara-negara yang baru merdeka sehingga lahirlah karakter kolektif pada kota-kota dinegara berkembang, tak terkecuali dengan Indonesia. Sehingga gaya tersebut disebut sebagai ‘The International Style’ –terminologi ini dipopulerkan oleh Henry-Russell Hitchcock bersama Philip Johnson pada pameran Arsitektur Modern di “The Museum of Modern Art’, di New York tahun 1932– dengan ungkapan “Less is More”.

‘The International Style’ adalah anak kandung dari aliran arsitektur Modern dengan ideology “Form, Follow, Function”-nya. Gaya arsitektur ini telah menjadi rezim arsitektur sampai awal tahun 1980-an, terutama di Amerika Serikat dan negara-negara berkembang lainnya. Gaya seperti ini tidak terlalu mendapat tempat di kota-kota Eropa yang umumnya adalah kota-kota tua yang memiliki sejarah yang panjang mengenai seni dan gaya dalam arsitektur, serta masyarakatnya sangat apresiatif dan memiliki pemahaman mengenai ‘histori’ kotanya. Sehingga tidak mudah untuk menghancurkan sebuah bangunan dan diganti dengan bangunan baru yang lebih tinggi.

Hal ini yang perlu dipelajari oleh masyarakat dan pengambil kebijakan di Indonesia, karena kota-kota di Indonesia juga banyak memiliki sejarah dalam seni dan gaya arsitektur. Bangunan ‘Palace of Culture and Science’, di Warsawa, Polandia (1955), karya arsitek Rusia, Lev Rudnyer dengan ketinggian 42 lantai merupakan bangunan pada awal periode ini yang tidak terpengaruh sama sekali oleh ‘International Style’ tetapi lebih terinspirasi oleh bangunan ‘Wringley Building’, di Chicago, karya arsitek Graham, Anderson, Probst and White, yang banyak memakai ornamen dari Renaissance.

Pada awal 1970-an sudah mulai terjadi perlawanan terhadap ‘International Style’ dengan bangunan yang tidak lagi sekedar berbentuk kubus kaca, tetapi sudah mulai ‘ilmu bentuk’ bangunan dipakai kembali.
Penentangan tersebut dideklarasikan dengan matinya aliran ‘Arsitektur modern’ di St, Louise, Missouri pada penghancuran gedung ‘Pruitt-Igoe Housing’, St. Louise, karya arsitek Minoru Yamasaki pada tanggal 15 juli 1972, maka dimulailah era arsitektur bergaya ‘Post-Modern’.

Gaya arsitektur Post-Modern ini benar-benar menonjol pada awal 1980-an dan masih berlangsung sampai sekarang. Gaya ini lahir dari kerinduan akan arsitektur yang lebih humanis dan kembali menghargai sejarah seni bangunan pada zaman sebelum arsitektur modern seperti Medieval, Renaissance, Classic, Barroq yang dalam penampilannya memakai konteks ‘kekinian’ dan memasukan unsur warna pada selimut bangunan dan terjadi sedikit pembalikan pada tingkat perwajahan dari kaidah-kaidah struktur yang seolah-olah mengolok-olok hukum grafitasi.

Pada periode bangunan tinggi bergaya ‘Post-modern’ ini terdapat
beberapa tokoh arsitek dengan bangunan terkenalnya antara lain ‘AT&T Building’, di New York (1985) karya arsitek Philip Johnson dengan ketinggian 37 lantai dengan inspirasi Renaissance yang menggunakan granit pinkis pada selimut bangunan. ‘Wacker Drive’, di Chicago (1983)karya arsitek William Pederson dari biro arsitek KPF (Kohn, Pederson & Fox) yang merupakan sebuah bangunan yang elegan dipinggir sungai Chicago. Salah satu karya dari kelompok KPF ini adalah ‘Bank Niaga Hedquarters” di Jl. Sudirman, Jakarta yang berassosiasi dengan salah satu konsultan di Jakarta.

ARSITEKTUR GEDUNG TINGGI DI INDONESIA

Arsitektur gedung tinggi di Indonesia sebagaimana dengan negara-negara berkembang lainnya yang baru merdeka pada pertengahan abad 20, dimulai pada periode arsitektur “International Style”.
Bangunan tinggi pertama di Indonesia adalah “Hotel Indonesia”, di Jakarta (1959) karya arsitek Amerika Abel Sorensen dan Wendy Sorensen yang penggunaannya diresmikan tanggal 5 Agustus 1962, serta “Wisma Nusantara”, di Jakarta, karya arsitek Jepang dengan ketinggian 30 lantai dengan menerapkan teknologi tahan gempa.

Kedua bangunan ini terletak berseberangan pada bundaran air Tugu Selamat Datang (Bundaran HI) dan merupakan titik awal dari perkembangan gedung-gedung tinggi di Indonesia. Dengan dibangunnya Jl. Jend. Sudirman pada awal 1960-an terjadi perkembangan gedung-gedung tinggi pada koridor Jl. Jend. Sudirman dan Jl. M.H. Thamrin pada awal 1970-an.
Begitu juga dengan Jl. H.R. Rasuna Said yang dibangun pada tahun 1970-an. Sebagaimana dengan negara-negara berkembang lainnya, pertumbuhan gedung-gedung tinggi yang mendominasi wajah kota dilaksanakan tanpa kendali sehingga bangunan yang hadir kurang memiliki pemahaman terhadap kondisi sosial, budaya dan ekonomi masyarakatnya.

Hal ini terus berlangsung dan mencapai puncaknya pada tahun 1989-an dan mendadak terhenti pada pertengahan 1997 karena krisis ekonomi yang masih berlangsung sampai sekarang. Ternyata keberadaan gedung-gedung tinggi terutama di Jakarta, Bandung dan Surabaya sangat berperan dalam mengantarkan kita pada krisis yang berkepanjangan.
Sekali lagi membuktikan bahwa arsitektur bisa menjadi simbol kemakmuran suatu negara tapi juga bisa sebagi simbol kehancuran/bangkrut. Dan kita ditakdirkan pada pilihan yang terakhir.

COPY RIGHT ; http://forumbebas.com/thread-59409.html

Iklan