BUNG KARNO, presiden pertama RI, kerap ”bertengkar” di udara dengan arsitek F. Silaban, bukan karena berebut sesuatu seperti laiknya anak-anak, melainkan karena kehebatan mereka berdualah, mereka sering berbenturan pendapat.
Tidak tanggung-tanggung, di udara pun jadi. Kedua tokoh yang sama-sama cinta bangunan-bangunan hebat itu sering sekali terbang berkeliling menggunakan Heli Biru Putih (Helikopter Kepresidenan). Tanpa pengawal, terkecuali pilot Letkol Sumarsono, pilot pribadi Soekarno. Mereka menelusuri kawasan yang sekiranya bisa disulap menjadi proyek hebat, demi kebesaran nama bangsa.

Paman saya, Frederick Silaban, suka bercerita mengenai pengalamannya dengan Bung Karno (BK) kalau kami duduk-duduk di rumahnya yang terletak di Bogor, dekat sekali dengan kawasan Istana Bogor. Menurut penuturan Sil, demikian panggilan BK kepada sang arsitek, BK itu ”megalomaniak”. Berbagai permintaan BK kepada Sil, rata-rata merupakan gedung atau kompleks yang megah spektakuler. BK memang orang yang punya citra estetika tinggi dalam hal yang berhubungan dengan arsitektur. Silaban punya visi jauh ke depan dalam soal-soal yang sama. Barangkali itulah sebabnya ia bisa mengakomodasi aspirasi BK yang sering bergejolak. Untuk membuatnya masuk akal dan bisa diaplikasikan, ya itu, mereka sering bertengkar di udara.
Demikianlah ceritanya, ketika BK mempunyai ide, Indonesia harus mempunyai komplek olah raga yang bisa membuat bangsa ini bangga. BK mengajak Silaban naik helikopter berkeliling di atas kawasan Dukuh Atas. Rupanya, BK sudah punya rencana dalam benaknya, tempat itu baik untuk dijadikan kompleks olah raga seperti yang ia idamkan waktu itu. Tentu saja dalam perjalanan udara tersebut, kedua ahli bangunan itu tidak diam seribu bahasa. BK sudah mulai membeberkan apa yang ia inginkan Tetapi Sil tidak sepandangan dengan BK. Sil yang selalu melihat puluhan tahun ke depan yakin betul bahwa suatu kompleks olahraga di Dukuh Atas akan langsung menimbulkan kemacetan kendaraan, barangkali di seluruh Jakarta Pusat, kalau ada gawe besar di tempat itu. Apalagi BK orangnya yang suka memboyong semua anggota korps diplomatik, semua anggota kabinet dan pejabat tinggi yang berkait, untuk setiap kegiatan yang ia anggap hebat.
Lalu apa jalan keluarnya, kalau sang arsiteknya tidak setuju? Sil minta pilot untuk memutar helikopter. Untuk mencari kawasan yang lebih cocok. Waktu mereka lewat di atas Senayan, sekali lagi sang pilot diminta untuk mutar lagi, lalu mengelilingi tempat itu berulang-ulang. Dengan menunjuk-nunjuk kemungkinan-kemungkinan yang potensial, akhirnya sang Presiden dan arsiteknya sepakat untuk mematangkan pilihan atas lokasi Senayan.
F. Silaban yang akhirnya berpredikat arsitek Presiden, dibawa BK ke mana pun ia mengadakan kunjungan kenegaraan. Sementara Presiden Soekarno mengadakan perundingan dengan tuan rumah, BK minta Sil untuk berkeliling-keliling dan melihat-lihat bangunan-bangunan yang bagus. Kelak dari salah satu apa yang ia lihat dari berkeliling-keliling itu dan membuat perbandingan, sang arsitek memperoleh inspirasi untuk Komplek Bung Karno di Senayan. Tetapi dalam bentuk yang spektakuler!
Jembatan Semanggi
Sebagai arsitek Presiden, Silaban ikut pada pertemuan kabinet, untuk menjelaskan mengenai rencana membangunan komplek olah raga di Senayan tersebut. Kebetulan dari pertemuan itu terdapat pula plusnya. Ir Sutami mendiang yang ketika itu Menteri PU mempunyai ide untuk memperkaya rencana tersebut. Ia mengerti betul kekhawatiran Silaban akan kemacetan lalu lintas yang timbul kalau ada gawe di Senayan. Ia bilang ia akan membangun Jembatan Semanggi, sehingga kendaraan yang keluar dari sebelah kiri kompleks tidak perlu bertemu dengan kendaraan yang datang dari Kebayoran atau menuju ke sana. Bisa kita bayangkan sekarang, Jembatan Semanggi vital untuk melegakan gerakan arus kendaraan dari empat jurusan, terutama kalau ada acara di Senayan. Apalagi dengan komplek yang kemudian dipersempit dengan berbagai hotel dan tempat pertemuan.
Inspirasi apa sih, yang dibawa Sil dari salah satu perjalanan dengan BK? Pada kunjungan kenegaraan ke Meksiko, Presiden Soekarno tidak mungkin mengabaikan kunjungan ke “Museo Antropologia de Mexico”.
Museum yang terkenal di seantero dunia karena kelengkapannya dan pengaturan pameran barang-barang bersejarah dan diorama sejarah Meksiko dari “pre-Colombian”. Di salah satu etalase pameran, yang penulis juga sudah menyaksikan, entah bagaimana, ada penggambaran penari legong Bali. Barangkali dibuat khusus untuk kunjungan kenegaraan BK untuk menyenangkan hati tokoh yang sangat dicintai di Meksiko. Sampai sekarang malah masih diingat orang.. Melihat penggambaran bagaimana bangsa Meksiko berjuang mempertahankan dan memperjuangkan kemerdekaan, membuat BK menitikkan air mata.
Entah karena sering disuruh BK untuk melihat-lihat. Silaban ngacir ke bagian luar museum yang terdiri dari bangunan yang luas. Di sana Silaban melihat tempat duduk-duduk di bawah air muncrat. Lebih dua puluh tahun kemudian penulis sendiri melihat tidak ada keistimewaan air muncrat tersebut. Tetapi yang dilihat oleh Silaban adalah atap bundar dari mana air muncrat. Seluruh tempat duduk beton yang bundar mengelilingi air muncrat, tidak punya radius lebih dari sepuluh meter. Kalau begitu apa istimewanya? Atap bundar asal keluarnya air muncrat, hanya disanggah oleh sebuah tiang beton. Itu pun sama sekali tidak hebat.
Air Muncrat Meksiko
Waktu Silaban mulai membuat cetak biru komplek Gelora Bung Karno, kemungkinan terlintas dibenaknya air muncrat di halaman museum di Mexico City tersebut. Cuma yang ia buat dan kemudian menjadi kehebatan dari Stadion Utama Senayan, ialah apa yang disebut dengan sistem gelang. Seluruh stadion sama sekali tidak disanggah oleh satu tiang pun. Atap bulat yang mengelilingi seluruh stadion hanya bertepi gelang raksasa yang dicengkram dari atas. Pada waktu itu orang belum pernah mendengar sistem ini diterapkan di mana pun. Entahlah kalau sekarang.
Mau tahu seberapa luas gelang raksasa tersebut? Waktu melaksanakan pembangunan stadion utama, banyak insinyur Rusia bertindak sebagai pengembang. Maklum, bantuan finansial datang dari Uni Soviet. Tetapi pelaksana di lapangan adalah dari satuan Zeni TNI AD. Silaban sebagai arsitek tentu terlibat sekali. Pada waktu itulah ia mengetahui bahwa orang-orang Rusia sudah korupsi besar-besaran.
Waktu membuat cetak biru, Silaban menyadari betul bahwa akan ada banyak penonton kaum perempuan Indonesia yang pakai sangggul. Apalagi kalau nyonya-nyonya penggede yang memenuhi undangan Presiden. Oleh karena itu ia sudah rencanakan agar ruang antara sandaran tempat duduk dengan tempat duduk di belakangnya, tempat orang masuk dan keluar, tempat-tempat duduk, cukup luas, agar orang yang berjalan ke tempat duduk tidak menyenggol konde penonton wanita yang sudah duduk. Ternyata, para insinyur Rusia mengurangi ruang tersebut. Tidak tanggung-tanggung. Kalau apa yang dikurangi para insinyur Rusia itu direntang dari Kantor Pos Besar di Pasar Baru, jaraknya bisa mencapai Purwakarta! Sil yang semua orang tahu jujur dan saleh, jelas tidak hanya menonton permainan pat gulipat para bulé Rusia tersebut. Ia mengadu kepada BK. Episode berikutnya tidak pernah penulis ketahui dari paman .
Plus Dari Rosenno
Masih ada yang plus dalam pembangunan Kompleks Gelora Bung Karno. Ir Rosenno yang ahli bahan bangunan, untuk pertama kali memperkenalkan penggunaan beton bertulang. Kelak Silaban, Sutami dan Rosenno menjadi sobat kental.
Beberapa bulan yang lalu, ketika seluruh bangsa marak merayakan HUT BK yang ke-100, harian Kompas memuat gambar komplek Olah Raga Senayan. Keterangan gambar menyebutkan bahwa komplek tersebut sebagai karya BK. Penulis coba koreksi, tetapi esok harinya tetap saja belum pas. Hanya ide yang menjadi kontribusi BK. Yang kemudian diterjemahkan Sil dalam cetak biru yang ratusan jumlahnya. Setiap lembar cetak biru ditandatangi oleh BK dengan “ACC, Soek” baru Silaban beranjak ke cetak biru berikutnya.
Jembatan Semanggi Sutami seperti melengkapi karya tersebut. Lalu plus lainnya muncul dari beton bertulang Rosenno. Tetapi hanya F. Silaban yang memperoleh sertifikat penghargaan dari Pemerintah yang waktu itu ditanda tangani oleh Perdana Menteri H. Djuanda.
Tulisan ini khusus dibuat setelah mengetahui bahwa Yayasan Gelora Bung Karno merencanakan untuk membuat buku mengenai sejarah pembangunannya. Penulis sangsi apakah keluarga BK memiliki informasi yang diperlukan, kalau buku itu akan faktual dan berorientasi sejarah. Barangkali ruang kerja Silaban di rumahnya di Jalan Gedung Sawah II No. 19 di Bogor, masih menyimpan banyak informasi yang berguna untuk penulisan buku.
Putranya Ir Panogu yang beberapa tahun yang lalu membuat cetak biru Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi waktu itu, barangkali punya banyak informasi, walaupun ia masih kanak-kanak waktu Komplek Senayan dibangun. Ia inilah dari 10 putra F. Silaban yang mengikuti jejak ayahnya. Walau pun masih jauh sekali dari kaliber sang ayah. Insinyur lulusan ITB yang bergabung dalam Atelier Enam, membuat gedung yang terletak di Jalan Medan Merdeka Barat tersebut tidak memerlukan pemeliharaan (penggantian bahan) fisik selama berpuluh tahun.
Sumber : *** (Annie Bertha Simamora) [1] Sinar Harapan
________________________________________

Iklan