KOMPAS Jembatan Semanggi
Selasa, 26 Agustus 2008 | 11:46 WIB

Jembatan Semanggi dibangun untuk mencegah kemacetan lalulintas. Dalam perjalanan waktu, jembatan itu, terutama setelah ada Plaza Semanggi, malah jadi salah satu titik kemacetan parah di Jakarta.
WAJAH Jembatan Simpang Susun Semanggi atau Jembatan Semanggi akan berubah dengan adanya halte busway serta Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) sepanjang kurang lebih 500 meter yang kini tengah dibangun di kawasan itu. Meski tidak terletak persis di area jembatan yang berbentuk daun semanggi, keberadaan halte dan JPO yang masif itu bagaimanapun secara landscape berdampak terhadap area jembatan secara keseluruhan. JPO itu akan menjadi jalur penghubung penumpang Transjakarta yang berpindah dari koridor 1 (Blok M-Kota) ke koridor 9 (Pinangranti-Pluit) atau sebaliknya.

Jembatan Semanggi tak terpisahkan dengan Jakarta. Semanggi menjadi salah satu ikon Jakarta, mungkin nomor dua setelah Monas. Nama Semanggi kian terkenal dan tercatat dalam sejarah perkembangan politik-demokrasi Indonesia ketika dua kali aksi unjuk rasa menentang rejim Orde Baru pada November 1998 dan September 1999 berakhir rusuh dan merenggut (sedikitnya 18) nyawa mahasiswa dan masyarakat biasa. Peristiwa berdarah itu kemudian dikenal dengan sebutan Peristiwa Semanggi I dan II yang urusan hukumnya tidak tuntas-tuntas hingga kini.
Beberapa tahun terakhir saban sore pada Senin-Jumat, arus lalu lintas di Kawasan Semanggi, terutama dari arah barat (Slipi) menuju ke timur (Cawang), selalu macet. Demi memperlancar arus, aparat kepolisan seringkali menerapkan kebijakan buka-tutup jalur, tepat di atas Jembatan Semanggi, untuk kendaraan yang hendak menuju ke timur.
Selain karena jumlah kendaraan yang melintas memang banyak, kemacetan juga disebabkan oleh masalah manajeman lalu lintas yang tidak becus. Di sekitar Jembatan Semanggi terdapat dua titik konflik arus. Konflik terjadi ketika dua atau lebih arus lalu lintas saling berpotongan.
Titik konflik pertama terdapat di pertigaan Jalan Gatot Subroto dan Jalan Bendungan Walahar, persis sebelum belokan menuju Jalan Jenderal Sudirman dari arah Gatot Subroto (Slipi). Arus kendaraan yang keluar dari Jalan Bendungan Walahar menuju Gatot Subroto berpotongan (menimbulkan konflik) dengan arus kendaraan dari Jalan Gatot Subroto yang akan menuju ke Jalan Jenderal Sudirman.
Konflik arus kedua terjadi di depan Plaza Semanggi. Arus kendaraan yang datang dari arah Gatot Subroto menuju Plaza Semanggi berkonflik dengan arus kendaraan dari arah Jenderal Sudirman yang menuju Gatot Subroto. Pada jam sibuk, seperti di sore hari, titik konflik itu menjadi biang kemacetan.
Dalam teori traffic management konflik arus tidak boleh terjadi. Pada titik konflik harus diberi lampu pengatur lalu lintas. Pemerintah Pronvinsi DKI Jakarta sebenarnya sudah menyadari adanya konflik arus di kawasan Semanggi. Dinas Perhubungan DKI Jakarta beberapa tahun lalu, sebelum Plaza Semanggi beroperasi, mengatakan, akses menuju plaza itu bukan dari Gatot Subroto tetapi Sudirman atau jalan lain yang merupakan terusan dari Jalan DR Satrio demi mencegah terjadinya konflik arus di kawasan Semanggi. Demikian juga, kendaraan dari Jalan Bendungan Walahar tidak dibolehkan langsung menuju Jalan Gatot Subroto.
Dalam upaya mencegah terjadinya konflik arus di Semanggi, Pemprov DKI Jakarta sempat menutup akses kendaraan dari Jalan Jenderal Sudirman untuk bisa langsung masuk ke pintu Tol Semanggi I. Namun akses menuju Plaza Semanggi dari Gatot Subroto tetap terbuka, demikian juga konflik arus di pertigaan Jalan Bendungan Walahar dan Gatot Subroto tetap dibiarkan. Kondisi konflik di pertigaan Walahar malah sering dimanfaatkan ‘pak ogah’ untuk mencari uang receh dari pengendara mobil. Alhasil, Semanggi selalu dilanda kemacetan.
Atas keluhan dan protes masyarakat, Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya kini menutup akses ke Plaza Semanggi dari Jalan Gatot Subroto. Namun itu hanya pada jam-jam sibuk dan sifatnya masih uji coba (sementara). “Sudah banyak komplain masyarakat soal kondisi kemacetan di depan Plaza Semanggi,” kata Kasubdit Pendidikan dan Rekayasa (Dikyasa) Polda Metro Jaya, AKBP Chrisnanda beberapa waktu lalu.
Pengelola Plaza Semanggi sendiri memberikan tiga jalur alternatif bagi pengunjung yang datang dari arah Gatot Subroto (Slipi), yaitu melalui jalan di depan Graha Internusa, terus ke Mega Kuningan, Jalan Satrio, lalu masuk Jalan Jenderal Sudirman; atau melalui jalan Komplek Polri, tembus ke Jalan Satrio, Jalan Jenderal Sudirman; atau melalui jalan di samping Menara Global, lurus ke Jalan Satrio, dan akhirnya ke Jalan Jenderal Sudirman.
***
JEMBATAN Semanggi, bersama Gelora Bung Karno (pada rejim Soeharto dinamakan Gelora Senayan), awalnya merupakan proyek prestise Bung Karno saat menyambut tamu Asian Games tahun 1962. Jembatan tersebut mulai dibangun tahun 1961.
Ketika Presiden Soekarno telah mantap dengan idenya untuk membangun sebuah stadion olah raga megah di kawasan Senayan, Ir Sutami, yang ketika itu menjabat Menteri Pekerjaan Umum (PU), dalam sebuah rapat kabinet mengusulkan untuk membangun jembatan guna mengatasi kemungkinan munculanya persoalan kemacetan lalu lintas. Sutani kuatir, kemacetan lalu lintas bakal timbul jika ada acara besar di Senayan.
Semanggi dipilih sebagai nama jembatan tersebut. Semanggi sesungguhnya nama lokal (Jawa) tumbuhan marsileaceae yang bisa dijadikan lalapan. Tanaman merambat -rambatannya sampai sekitar 25 cm- itu hidup di semak, berdaun majemuk (setiap tangkai terdiri empat helai daun berbentuk lonjong yang panjangnya mencapai dua cm dan lebar 1 cm.
Jembatan itu dirancang untuk memperlancar arus lalu lintas ke empat arah di sekitar kawasan Semanggi. Tetapi dengan bertambahnya penduduk dan kendaraan, beban jembatan itu juga tambah bengkak. Maka tahun 1988-1989 Jembatan Semanggi mengalami pelebaran dengan tetap empertahankan bentuk aslinya.
Sepuluh tahun berlalu setelah pelebaran itu. Banyak perubahan peruntukan lahan terjadi di sekitar Semanggi, jumlah kendaraan yang melintas juga meningkat tajam. Beban jembatan itu pun jadi tambah berat. Haruskah Semanggi berubah wajah lagi?

Iklan