<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>ArcDesign</title>
	<atom:link href="http://netsain.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://netsain.wordpress.com</link>
	<description>forum and community</description>
	<lastBuildDate>Fri, 05 Aug 2011 01:58:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='netsain.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/dc7e7b47097672b32297e44fef84c920?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>ArcDesign</title>
		<link>http://netsain.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://netsain.wordpress.com/osd.xml" title="ArcDesign" />
	<atom:link rel='hub' href='http://netsain.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>ARSITEKTUR TRADISIONAL JEPANG</title>
		<link>http://netsain.wordpress.com/2009/10/28/arsitektur-tradisional-jepang/</link>
		<comments>http://netsain.wordpress.com/2009/10/28/arsitektur-tradisional-jepang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 00:25:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bind</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://netsain.wordpress.com/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[http://rurucoret.blogspot.com/2009/02/arsitektur-tradisional-jepang.html<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=netsain.wordpress.com&amp;blog=8075460&amp;post=229&amp;subd=netsain&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://2.bp.blogspot.com/_ivpntrcRt-U/SY6J5xMK89I/AAAAAAAAALw/YU1xfPYawJk/s320/1.bmp" alt="ars jepang" /><br />
(Gambar 1.1)<br />
Fasad rumah tradisional dengan bangku duduk yang didominasi bahan kayu serta pintu geser arah horizontal dan vertikal dari kayu.</p>
<p>Zaman Edo berlangsung sekitar tahun 1600–1868 ketika Jepang di bawah pemerintahan Sogun menutup pengaruh dan hubungannya dengan dunia Barat. Keputusan itu tercermin pada pola perkembangan kota kecil di sepanjang jalur Nakasendo, salah satu di antaranya dapat dilihat di desa kuno Tsumago yang bangunan rumah tinggalnya tampak jelas didominasi corak arsitektur tradisional Jepang gaya Edo.<br />
Beberapa jalan kecil berupa gang juga sangat menarik diikuti karena dari jalan kecil tersebut kita dapat melihat taman gaya Jepang di area halaman belakang dan depan rumah. Taman yang dilengkapi kolam batu alam dilengkapi bonsai, pancuran air dari bambu, dan kerajinan bambu lain menambah daya tarik kawasan ini.</p>
<p><span id="more-229"></span><br />
<img src="http://1.bp.blogspot.com/_ivpntrcRt-U/SY6J5_ydshI/AAAAAAAAAL4/IWbK40vc5uw/s320/2.bmp" alt="ars jepang" /><br />
(Gambar 1.2)<br />
Rumah tradisional Jepang berbahan kayu dan atap ditindih batu dengan aksesori fasade khas Jepang</p>
<p>Kebanyakan bangunan utama di kawasan ini terbuat dari papan yang bila kita lihat lebih jauh menunjukkan kedekatan kehidupan Tsumago dengan pertanian, perdagangan, dan bisnis jasa yang menjadi mata pencarian utama penduduk pada masa Sogun.</p>
<p>Atap yang ditindih batu untuk menahan agar tidak terbang tertiup angin dengan talang air pada sisi atap dan menyalurkan air ke tanah yang terbuat dari bambu juga menunjukkan kecerdikan dan pemikiran unsur teknis tukang bangunan masa Edo. Ruangan dengan lantai tanah, tatami, dan fondasi batu alam yang ditindih bangunan bahan kayu menjadi salah satu ciri khusus.<br />
Dengan struktur bangunan kayu berpintu geser dengan teralis kayu horizontal dan vertikal memperlihatkan gaya arsitektur tradisional jepang kuno. (gambar 1.3)</p>
<p><img src="http://3.bp.blogspot.com/_ivpntrcRt-U/SY6J585bNUI/AAAAAAAAAMA/76hCedPqIZk/s320/3.bmp" alt="ars jepang" /><br />
(gambar 1.3)<br />
Tidak hanya citranya, tetapi konstruksinya pun sederhana sekali “ semakin sedikit, semakin baik”. Prinsip ini sudah diambil alih dalam seni arsitektur internasional.</p>
<p>INTERIOR RUMAH TRADISIONAL JEPANG</p>
<p>Sudah sejak abad ke 18 masyrakat Barat yang sudah diresapi citarasa matematika dan penalaran segala bidang kehidupan menemukan jepang sebagai negeri selera ningrat dan citarasa yang sangat cocok dengan dambaan manusia kebudayan industri yakni perpaduan antara yang eksak matematis dan yang menumbuhkan haru pada segala yang indah. Maka garis-garis dan kepolosan dinding-dinding geometrik yang menandai seluruh arsitektur jepang mereka jadikan contoh ekspresi. (lihat gambar 1.4)</p>
<p><img src="http://1.bp.blogspot.com/_ivpntrcRt-U/SY6J6G6oVjI/AAAAAAAAAMI/KxovzmIRRZY/s320/4.bmp" alt="ars jepang" /><br />
(Gambar 1.4)<br />
Interior dan pemilihan bahan rumah Jepang Tradisional ini pun masih sama napas cita rasanya. Dinding-dinding tipis, nyaris tidak bermateri (kertas pun masih dipakai untuk dinding-dinding ruangan). Tidak aman memang dan sangat dingin di musim salju,tetapi sikap Shinto satu dengan alam tetap dimenangkan.</p>
<p>Melalui gambar ini dan seterusnya kita dapat mempelajari dampak dan hikam akrsitekutur tradisional Jepang yang kontemporer secara lebih terperinci. Tampaklah betapa sangat mungkinlah modernisasi dengan bahasa kontemporer, tanpa meninggalkan kekhasan pribadi pribumi.</p>
<p>Maka perhatikan gambar 1.5 dalam pasal 9 dari arsitektur modern tahun-tahun 20-30an. Tampaklah ciri ke Jepangan pada bangunan dan perabot rumah itu. Lihat gambar (1.5)</p>
<p><img src="http://2.bp.blogspot.com/_ivpntrcRt-U/SY6J6C-pPxI/AAAAAAAAAMQ/Igfnm2ydGzk/s320/5.bmp" alt="ars jepang" /><br />
(gambar 1.5)<br />
Citarasa kepolosan dan kesederhanaan yang bernapas Shinto itu lebih meluas lagi sesudah Perang Dunia II, yang ternyata sedambaan dengan citarasa menusia yang baru saja dianiaya oleh wabah bahasa Meriam dan bom dunia industri. Di sini selera dan citra arjuna sangatlah jelas.</p>
<p>Perhatikan dinding-dinding, lantai dan langit-langit. Semua serba bidang polos, dapat dikatakan tanpa hiasan apapun. Satu-satunya “hiasan” hanyalah permainan garis-garis lurus dan bidang-bidang murni. Ditambah gambar bergaya sangat hekmat goresan, kaligrafi sajak satu saja di ruang utama dengan tokonominya. (lihat gambar 1.6)</p>
<p><img src="http://1.bp.blogspot.com/_ivpntrcRt-U/SY6Md0WVK7I/AAAAAAAAAMY/4N5WJp-Wfgw/s320/6.bmp" alt="ars jepang" /><br />
(gambar 1.6)<br />
Dalam ruang utama, tempat penerimaan tamu, dibuat panggung kecil yang berdinding mundur sebagai tempat keramat, suatu fokus, tempat orientasi diri psikologis dalam rumah, yang disebut tokonoma. Kadang-kadang lukisan diganti dengan yang lain, atau dipajang satu syair dengan seni kaligrafi indah, demi percakapan tenbtang puisi atau tukar-menukar kearifan, pengetahuan budaya.</p>
<p><img src="http://3.bp.blogspot.com/_ivpntrcRt-U/SY6Md5CvL0I/AAAAAAAAAMg/XDS_lRQO8Pg/s320/7.bmp" alt="ars jepang" /><br />
(gambar 1.7)<br />
Ruang Panti minum Bosen , dari biara Kohoran. Lihatlah bagaimana sekian unsur kontras bermain dalam melodi tesa-antitesa-sintesa:<br />
1. Luar dan Dalam.<br />
2. Garis bidang geometrik lurus-datar-ketat dan bentuk-bentuk organik luwes.<br />
3. kebersihan polos netral warna di dalam dan yang serba variasi warna-warni di luar.</p>
<p><img src="http://1.bp.blogspot.com/_ivpntrcRt-U/SY6MeKMEN8I/AAAAAAAAAMo/c9rGE4ruh1g/s320/8.bmp" alt="ars jepang" /><br />
(Gambar 1.8)<br />
Denah Rumah tradisional Jepang dengan pembagian ruang yang berbentuk sederhana yaitu kotak atau persegi. Manusia modern abad ke 20 memang sedang gandrung pada segala hal yang geometris. Tetapi geometriks yang menyentuh kalbu hati. Dan apa yang menjadi kenyataan budaya arsitektur dari seorang tokoh dan perintis arsitektur modern, Mies Van der Rohe? Mies van der Rohe merumuskannya demikian: “semakin sedikit semakin baik”. Tetapi perumusan yang menjadi tersohor itu praktis sudah dikerjakan berabad-abad oleh orang-orang yang berjiwa Shinto dan Budha Zen.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/netsain.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/netsain.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/netsain.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/netsain.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/netsain.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/netsain.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/netsain.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/netsain.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/netsain.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/netsain.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/netsain.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/netsain.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/netsain.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/netsain.wordpress.com/229/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=netsain.wordpress.com&amp;blog=8075460&amp;post=229&amp;subd=netsain&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://netsain.wordpress.com/2009/10/28/arsitektur-tradisional-jepang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/440730cfa0a74bf9ccf35cfe9831af3d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bind</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://2.bp.blogspot.com/_ivpntrcRt-U/SY6J5xMK89I/AAAAAAAAALw/YU1xfPYawJk/s320/1.bmp" medium="image">
			<media:title type="html">ars jepang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://1.bp.blogspot.com/_ivpntrcRt-U/SY6J5_ydshI/AAAAAAAAAL4/IWbK40vc5uw/s320/2.bmp" medium="image">
			<media:title type="html">ars jepang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://3.bp.blogspot.com/_ivpntrcRt-U/SY6J585bNUI/AAAAAAAAAMA/76hCedPqIZk/s320/3.bmp" medium="image">
			<media:title type="html">ars jepang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://1.bp.blogspot.com/_ivpntrcRt-U/SY6J6G6oVjI/AAAAAAAAAMI/KxovzmIRRZY/s320/4.bmp" medium="image">
			<media:title type="html">ars jepang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://2.bp.blogspot.com/_ivpntrcRt-U/SY6J6C-pPxI/AAAAAAAAAMQ/Igfnm2ydGzk/s320/5.bmp" medium="image">
			<media:title type="html">ars jepang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://1.bp.blogspot.com/_ivpntrcRt-U/SY6Md0WVK7I/AAAAAAAAAMY/4N5WJp-Wfgw/s320/6.bmp" medium="image">
			<media:title type="html">ars jepang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://3.bp.blogspot.com/_ivpntrcRt-U/SY6Md5CvL0I/AAAAAAAAAMg/XDS_lRQO8Pg/s320/7.bmp" medium="image">
			<media:title type="html">ars jepang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://1.bp.blogspot.com/_ivpntrcRt-U/SY6MeKMEN8I/AAAAAAAAAMo/c9rGE4ruh1g/s320/8.bmp" medium="image">
			<media:title type="html">ars jepang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kesejajaran Arsitektur Bangunan Suci India dan Jawa Kuna</title>
		<link>http://netsain.wordpress.com/2009/10/10/kesejajaran-arsitektur-bangunan-suci-india-dan-jawa-kuna/</link>
		<comments>http://netsain.wordpress.com/2009/10/10/kesejajaran-arsitektur-bangunan-suci-india-dan-jawa-kuna/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 10:05:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bind</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://netsain.wordpress.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[http://calonarsitek.wordpress.com/kesejajaran-arsitektur-bangunan-suci-india-dan-jawa-kuna/<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=netsain.wordpress.com&amp;blog=8075460&amp;post=193&amp;subd=netsain&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>I</p>
<p>Telah banyak teori yang mencoba menjelaskan perihal bagaimana caranya pengaruh kebudayaan India (Hindu-Buddha) sampai ke kepulauan Indonesia. Hal yang sudah pasti adalah berkat adanya pengaruh tersebut penduduk kepulauan Indonesia kemudian memasuki periode sejarah sekitar abad ke-4 M. Menurut J.L.A Brandes (1887) penduduk Asia Tenggara termasuk yang mendiami kepulauan Indonesia telah mempunyai 10 kepandaian menjelang masuknya pengaruh kebudayaan India, yaitu: (1) mengenal pengecoran logam, (2) mampu membuat figur-figur manusia dan hewan dari batu, kayu, atau lukisan di dinding goa, (3) mengenal instrumen musik, (4) mengenal bermacam ragam hias, (5) mengenal sistem ekonomi barter, (6) memahami astronomi, (7) mahir dalam navigasi, (8) mengenal tradisi lisan, (9) mengenal sistem irigasi untuk pertanian, (10) adanya penataan masyarakat yang teratur. Dalam kondisi peradaban seperti itulah mereka kemudian berkenalan dan menerima para niagawan dan musafir dari India ataupun dari Cina.</p>
<p>Setelah berinteraksi dengan para pendatang dari India, maka diterimalah beberapa aspek kebudayaan penting oleh penduduk kepulauan Indonesia. Aspek-aspek kebudayaan dari India yang diterima oleh nenek moyang bangsa Indonesia benar-benar barang baru, yang tidak mereka kenal sebelumnya, yaitu:</p>
<p><span id="more-193"></span><br />
1. Aksara Pallava<br />
2. Agama Hindu dan Buddha<br />
3. Penghitungan angka tahun Saka</p>
<p>Melalui ketiga aspek kebudayaan dari India itulah kemudian peradaban nenek moyang bangsa Indonesia terpacu dengan pesatnya, berkembang dan menghasilkan bentuk-bentuk baru kebudayaan Indonesia kuna yang pada akhirnya pencapaian itu diakui sebagai hasil kreativitas penduduk kepulauan Indonesia sendiri.</p>
<p>Dengan dikenalnya aksara Pallava, atau sering juga disebut dengan huruf Pascapallava, nenek moyang bangsa Indonesia mampu mendokumentasikan pengalaman dalam kehidupannya. Terbitnya prasasti-prasasti dari kerajaan-karajaan kuna, penggubahan karya sastra dengan berbagai judul, serta dokumentasi tertulis lainnya adalah berkat dikenalnya aksara Pallava. Bahkan di masa kemudian aksara Pallava itu kemudian “dinasionalisasikan” oleh berbagai etnis Indonesia, maka muncullah antara lain aksara Jawa Kuna, Bali Kuna, Sunda Kuna, Lampung, Batak, dan Bugis.</p>
<p>Wilayah kepulauan Indonesia segera memasuki zaman sejarahnya ketika sumber tertulis yang berupa prasasti awal telah dijumpai di wilayah ini. Sebagaimana diketahui prasasti-prasasti pertama itu terdapat di wilayah Jawa bagian barat dan Kalimantan Timur. Di Jawa bagian barat berkembang institusi kerajaan yang bercorak kebudayaan India pertama kali, yaitu Tarumanagara yang salah satu rajanya bernama Purnnavarmman. Dalam pada itu di Kalimantan Timur juga berkembang sistem kerajaan yang sama, berkat peninggalan-peninggalan prasasti Yupa yang masih bertahan hingga kini, diketahui adanya kerajaan kuna di wilayah Kutai, rajanya yang dikenal dalam prasasti bernama Aswawarmman. Walaupun di kedua lokasi tersebut prasasti-prasastinya belum mencantumkan kronologi yang pasti, tetapi dapat diduga bahwa kerajaan-kerajaan pertama di bumi Nusantara itu berkembang pada sekitar abad ke-4 M.</p>
<p>Prasasti yang berangka tahun pertama dijumpai di wilayah Jawa bagian tengah, disebut prasasti Canggal yang berangka tahun 652 Saka atau 732 M. Prasasti itulah yang merupakan bukti awal bahwa nenek moyang bangsa Indonesia telah menghitung tahun, dan system penghitungan yang dipakai merekam adalah penghitungan tahun Saka dari kebudayaan India. Sejak saat itu masyarakat Jawa Kuna seterusnya mencantumkan data kronologi untuk mencatat peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dalam kehidupannya, tahun-tahun tidak lagi lewat dan diabaikan begitu saja.</p>
<p>Akibat diterimanya agama Hindu-Buddha oleh penduduk kepulauan Indonesia terutama Jawa, maka banyak aspek kebudayaan yang dihubungkan dengan kedua agama itu menjadi turut berkembang pula. Hal yang dapat diamati secara nyata terjadi dalam bidang seni arca dan seni bangun (arsitektur). Bentuk kesenian lain yang turut terpacu sehubungan dengan pesatnya kehidupan agama Hindu-Buddha dalam masyarakat adalah seni sastra. Banyak karya sastra dan susastra yang digubah dalam masa Hindu-Buddha selalu dilandasi dengan nafas keagamaan Hindu atau Buddha. Juga diuraikan perihal ajaran agama yang dianyam dengan cerita-cerita yang melibatkan para ksatrya dan kerajaan-kerajaan atau kehidupan pertapaan.</p>
<p>Dalam hal seni arca sudah tentu, penggarapannya selalu dibuat untuk keperluan keagamaan. Di Jawa pernah berkembang suatu bentuk kesenian yang disebut bentuk “Kesenian Terikat”. Bentuk kesenian itu selalu terkait dengan kehidupan keagamaan, kesenian yang dikembangkan oleh para seniman (silpin) didedikasikan kepada keperluan agama. Bentuk kesenian terikat sukar untuk berubah, sebab kesenian itu tidak saja dikaitkan dengan agama tetapi juga dipersembahkan untuk kehidupan agama suatu komunitas (Vogler 1948). Seniman sebagai sosok individual dirasakan tidak perlu untuk ditampilkan, kalaupun disebutkan –misalnya dalam karya-karya sastra– nama seniman pujangga itu ditulis dengan panggilan samaran seperti Prapanca (lima kekurangan), Tantular (tidak bisa bertutur), Nirartha (tidak punya harta), dan lainnya lagi. Sedangkan dalam bidang seni arca atau pun arsitektur, diri seniman pembuatnya tidak pernah ada disebutkan. Dalam hal seni bangunan suci dalam masa Jawa Kuna tidak pernah diketahui siapa nama arsiteknya, karya arsitektur tersebut dianggap sebagai suatu karya komunal, suatu karya yang didedikasikan bagi kehidupan agama dalam masyarakat pada suatu masa di suatu wilayah. Oleh karena itu hasil kajian dapat menyimpulkan relief cerita apa saja yang dipahatkan di Candi Borobudur, berapa kubik balok batu yang dipergunakan untuk membangun candi itu, berapa jumlah stupanya, dan lainnya lagi, namun tidaklah dapat diketahui siapa arsitek perancangnya. Apalagi arsiteknya, nama raja yang menganjurkan untuk mendirikan Candi Borobudur pun sampai sekarang masih belum dapat diketahui secara pasti.</p>
<p>Dalam pandangan tradisional para perancang dan penaja (sponsor) suatu karya arsitektur semegah apapun, agaknya tidak perlu untuk ditonjolkan. Dalam pandangan itu karya arsitektur masih terkait erat untuk keperluan agama, seni, dan masyarakat. Dalam Bagan I terlihat hubungan karya arsitektur dengan butir-butir lainnya,</p>
<p>II</p>
<p>Pada bagan tersebut terlihat kaitan antara masyarakat-seni-agama saling berasosiasi, ketiganya menunjang terbentuknya suatu karya arsitektur. Dengan demikian suatu karya arsitektur sebaik apapun, apabila dalam pandangan masyarakat dan apalagi dianggap tidak sesuai dengan kaidah keagamaan Hindu atau Buddha, sudah tentu karya arsitektur tersebut tidak mendapat apresiasi, bahkan mungkin sekali diabaikan saja atau malahan dibongkar kembali. Lain halnya apabila karya arsitektur tersebut dipandang memenuhi hasrat kehidupan keagamaan masyarakat, maka struktur yang paling sederhana pun akan tetap diapresiasi dan dianggap sebagai objek sakral.</p>
<p>Kesenian terikat yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Jawa Kuna, sangat mungkin telah berakar jauh dalam zaman ketika pengaruh India belum masuk ke kepulauan Indonesia. Melalui berbagai peninggalan megalitik dapat diketahui bahwa penduduk kepulauan ini telah mengenal adanya religi yang mengkultuskan arwah nenek moyang.</p>
<p>Bentuk penghormatan terhadap arwah leluhur tersebut berkembang seiring dengan pemujaan terhadap tempat-tempat tinggi seperti lereng gunung, dataran tinggi, dan puncak-puncak gunung. Sebagai media pemujaan dalam relii tersebut merekam mendirikan bangunan-bangunan megalitik di daerah ketinggian tersebut, seperti menhir, dolmen, kubur batu, teras bertingkat (punden berundak), dan susunan batu-batu artifisial lainnya. Kultus leluhur tersebut untuk beberapa waktu agaknya telah “diendapkan” ketika pengaruh agama Hindu-Buddha sedang berada di puncak perkembangannya antara abad ke-8—10 M di wilayah Jawa bagian tengah. Kemudian setelah diendapkan beberapa lama, religi yang dikembangkan dalam masa perundagian itu lalu hidup kembali dalam era Majapahit antara abad ke-14—15 M.</p>
<p>Dengan demikian ketika pengaruh kebudayaan India masuk dan diperkenalkan di tengah-tengah masyarakat prasejarah di kepulauan Indonesia, mereka bukanlah suatu masyarakat yang liar dan biadab, tetapi benih kebudayaan India itu disemaikan di lahan yang tepat dan subur, masyarakat prasejarah Indonesia yang beradab.</p>
<p>III</p>
<p>Karya Arsitektur awal yang masih dapat bertahan hingga kini dari masa perkembangan agama Hindu-Buddha di Jawa hanya beberapa bangunan saja. Misalnya Candi Gunung Wukir di Magelang, beberapa candi di dataran tinggi Dieng, candi-candi Gedong Songo di Ambarawa (Jawa Tengah), dan Candi Badut di Malang (Jawa Timur). Di antara candi-candi tersebut yang dihubungkan dengan prasasti yang berkronologi adalah Candi Gunung Wukir dengan prasasti Canggal (tahun 732 M) dan Candi Badut dengan prasasti Dinoyo (tahun 760 M).</p>
<p>Candi Badut keadaannya jauh lebih baik dari pada Candi Gunung Wukir karena bangunan itu masih menyisakan bagian kaki dan tubuhnya, sedangkan atapnya tidak ada lagi karena rusak (runtuh). Adapun candi-candi Pervaranya yang berjumlah 3 bangunan hanya tersisa pondasinya saja. Sedangkan di situs Candi Gunung Wukir sekarang ini hanya dijumpai sisa bangunan candi, yaitu bagian kaki candi terbawah yang di permukaannya –dalam posisi yang miring– terdapat batu yoni. Di depan sisa candi itu masih terdapat 3 candi Pervara yang hanya meninggalkan bagian kaki dan sedikit dinding tubuhnya, atap candi-candi Pervara itu tidak ada lagi. Akan halnya candi-candi Dieng dan Gedong Songo strukturnya masih relatif utuh, ada bagian kaki, tubuh, dan atapnya, walaupun memang tidak sempurna sekali. Ukuran candi-candi itu pun relatif kecil apabila dibandingkan dengan candi-candi yang dibangun dalam masa yang kemudian.</p>
<p>Sangat mungkin ketika pengaruh agama Hindu-Buddha mulai diterima dan berkembang dalam masyarakat Jawa Kuna, tradisi mendirikan bangunan suci dalam bentuk lengkap seperti pada umumnya, yaitu terdiri dari kaki, tubuh, dan atap bangunan masih belum dikenal secara baik. Jacues Durmacay seorang arsitek yang mendalami peninggalan arsitektur Jawa Kuna pernah menyatakan bahwa pada awalnya bangunan suci dalam masyarakat Jawa Kuna (candi) tidak didirikan dalam bentuk lengkap, melainkan hanya berupa bangunan batur (soubasement) yang di permukaannya diletakkan objek-objek sakral (Lingga-Yoni dan arca-arca), jadi candi-candi bersifat terbuka dan arca utama kelihatan dari luar (Dumarcay 1999: 415). Objek sakral itu kemudian dinaungi oleh atap dari bahan yang mudah rusak, seperti ijuk, jalinan rumput ilalang kering, kayu dan bambu. Oleh karena itu bagian atap tidak dapat dijumpai lagi hingga sekarang. Pada sekitar awal abad ke-9 terjadi perombakan besar-besaran terhadap bangunan-bangunan suci demikian, dengan ditambahi dengan dinding, relung-relung, serta struktur atap yang terbuat dari bahan yang tahan lama (batu). Pendapat itu didasarkan pada dijumpainya beberapa susunan perubahan dan tambahan pada beberapa candi di Jawa Tengah, misalnya pada candi Bima di Dieng, Candi Lumbung di daerah Prambanan, dan candi-candi Pervara di kelompok percandian Sewu (Dumarcay 1999: 416–7).</p>
<p>Demikianlah agaknya setelah pengaruh dari India itu mulai lancar memasuki masyarakat Jawa Kuna, maka bangunan-bangunan suci yang didirikan di Jawa pun dibuat sesuai dengan kaidah ajaran Hindu atau Buddha. Bentuk candi-candi di Jawa kemudian ada yang mirip dengan kuil-kuil pemujaan dewa yang ada di India.</p>
<p>Terdapat kemungkinan bahwa beberapa bangunan bangunan candi di Jawa bagian tengah bentuk arsitekturnya diilhami oleh bangunan-bangunan suci di India. Beberapa bangunan di Mahabalipuram seperti Arjuna Ratha, Draupadi Ratha dan Dharmaraja Ratha dan beberapa bangunan lainnya yang merupakan peninggalan dinasti Pallava bentuknya sangat mirip dengan candi-candi di dataran tinggi Dieng (Nath 1996: Plate XXIX—XXX, &amp; XXXII)</p>
<p>Agaknya gaya arsitektur bangunan suci masa Gupta dan sesudah Gupta di daerah tengah dan barat India, serta arsitektur bangunan suci yang dikembangkan oleh dinasti Pala di wilayah timur laut India dapat dipertimbangkan pula sebagai akar bagi pengembangan bangunan-bangunan candi di Jawa bagian tengah (Chihara 1996: 98—9). Begitupun bangunan Candi Bima di Dieng sangat mungkin juga didasarkan pada seni bangunan suci Orissa di India. Puncak atap Candi Bima yang sekarang telah rusak, sangat mungkin dahulu dihias dengan bentuk amalaka.Bentuk demikian biasa dijumpai menjadi penghias puncak atap sikhara pada kuil pemujaan dewa di India, misalnya pada bangunan Parasuramesvara di Bhuvanesvara (Coomaraswamy 1985: 202, plate 216).</p>
<p>Dalam hal pembangunan monumen-monumen keagamaan Hindu-Buddha di Jawa pada masa silam, agaknya terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya. Ketika agama Hindu atau Buddha sudah diterima oleh masyarakat Jawa Kuna, konsep-konsep dasar tentang pembuatan bangunan suci, arca, dan ornamen lainnya pun kemudian diterima pula. Dalam bagan II terlihat sebagai berikut:</p>
<p>Setelah diterima oleh masyarakat Jawa Kuna, kemudian segala pengaruh budaya luar itu diolah kembali dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan budaya yang telah berkembang sebelumnya (kebudayaan prasejarah Indonesia). Penyesuaian itu terjadi pula akibat adanya kondisi alam yang sedikit berbeda antara tanah Jambhudvipa dan Jawadvipa.</p>
<p>Jadi ketika anasir budaya India, dalam hal ini agama Hindu-Buddha sudah mulai memasyarakat, mulai pula masyarakat Jawa Kuna mengkreasikannya kembali. Unsur-unsur luar itu tidak diterima begitu saja untuk ditiru. Oleh karena itu dalam hal pendirian bangunan suci, tidak pernah ada bangunan keagamaan Hindu-Buddha dalam masyarakat Jawa Kuna yang mirip sama sekali dengan kuil-kuil pemujaan dewa di India. Memang pada awal perkembangannya, terdapat bangunan-bangunan candi di Jawa Tengah yang mengingatkan peneliti pada bangunan suci India. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, masih di wilayah Jawa Tengah, bangunan suci yang dirikan tidak banyak lagi mempertahankan corak keindiaannya, kecuali pada seni arca dan ornamennya. Bangunan-bangunan seperti itu misalnya dapat dijumpai di wilayah Jawa Tengah bagian selatan, yaitu Candi Barong dan Candi Ijo yang halamannya dibuat bertingkat-tingkat sebagaimana layaknya punden berundak dalam masa prasejarah.</p>
<p>Dalam perkembangan selanjutnya dalam periode Klasik Muda di wilayah Jawa Timur (abad ke13—15 M) arsitektur bangunan suci Hindu-Buddha di Jawa telah memperoleh gayanya tersendiri. Bentuk arsitekturnya apabila diamati akan terdiri dari (a) candi-candi bergaya Singhasari, (b) gaya candi Jago, (c) gaya candi Brahu, dan (d) punden berundak. Dapat dikatakan pengaruh India dalam periode tersebut sudah mulai menipis, yang tampak terlihat adalah pada “permukaannya” saja.</p>
<p>Kompleks bangunan suci terluas di wilayah Jawa Timur, yaitu Candi Panataran pun bentuknya tidak lagi bercorak seperti bangunan suci yang telah dikenal sebelumnya di Jawa Tengah dalam era yang lebih tua. Bentuk bangunan-bangunan di dalam kompleks Panataran kebanyakan berupa arsitektur terbuka, menyebar, dan sebagiannya menggunakan bahan-bahan yang mudah lapuk. Apat dinyatakan bahwa kompleks Panataran tersebut merupakan prototipe bangunan-bangunan suci di Bali (pura) yang didirikan setelah keruntuhan Majapahit dalam awal abad ke-16 hingga sekarang ini (Bernet Kempers 1959: 90–4). Begitupun bentuk punden berundak yang dibangun di lereng gunung, terasakan sekali adanya upaya penghidupan kembali pemujaan arwah nenek moyang (ancestor worship) yang telah lama di kenal dalam zaman prasejarah.</p>
<p>Pengaruh India dalam hal ini hanya tinggal dalam konsep-konsep keagamaannya saja, konsep-konsep kedewataan atau pun cerita-cerita epic yang kemudian digubah kembali oleh para pujangga Jawa Kuna. Dalam hal konsepsi keagamaan pun, hakekat tertinggi dalam agama Hindu dan Buddha dalam masa kerajaan Singhasari (abad ke-13 M) dan Majapahit (abad ke-14—15 M) telah dipadukan menjadi Bhattara Siva-Buddha. Hal yang menarik adalah bahwa perpaduan konsepsi dewata tertinggi itu pun kemudian dituangkan dalam bentuk bangunan suci, misalnya kehadiran nafas Siva dan Buddha akan dirasakan pada arsitektur Candi Jawi (Pasuruan) dan Candi Jago (Malang). Di Candi Jawi, unsur Buddha terlihat pada puncaknya, sedangkan di relung-relung tubuh candinya dahulu berisikan arca-arca Hindu-Saiva khas Jawa. Begitupun di Candi Jago, cerita relief yang dipahatkan banyak yang bernafaskan Hindu-Saiva, adapun arca-arca pelengkap candi itu semuanya bernafaskan Buddha Mahayana. Candi-candi yang bersifat perpaduan seperti itu agaknya sukar untuk ditemukan di Jambhudvipa.</p>
<p>IV</p>
<p>Tidak dapat diingkari bahwa arsitektur bangunan suci Hindu-Buddha di Jawa telah mendapat pengaruh yang kuat dari India. Hal itu terjadi seiring dengan diterimanya agama Hindu-Buddha dalam masyarakat Jawa Kuna. Karena sistem keagamaannya diterima, maka sudah tentu didirikanlah tempat-tempat suci sebagai sarana peribadatannya. Dalam perkembangannya, ternyata arsitektur bangunan suci Hindu-Buddha di Jawa telah mendapatkan coraknya tersendiri yang berbeda dengan bangunan sejenis di India.</p>
<p>Kenyataan seperti itu pada dasarnya tidak hanya terjadi di Jawa, tetapi juga dapat dijumpai di wilayah-wilayah lainnya di daratan Asia Tenggara, misalnya pada bangunan suci Campa, Khmer (Kamboja), dan Thailand. Pengaruh India tersebut mungkin masuk ke wilayah Asia Tenggara pada sekitar awal tarikh Masehi, kemudian pengaruh yang datang itu diolah kembali untuk dijadikan seperti milik sendiri oleh penduduk-penduduk pribumi yang menerimanya.</p>
<p>Dalam hal arsitektur bangunan suci Hindu-Buddha di India dan Jawa yang lebih dirasakan adalah adanya kesejajaran (parallelism) setelah agama Hindu-Buddha dari India diterima oleh masyarakat Jawa Kuna. Pada awalnya memang pengaruh India banyak mengilhami pendirian karya monumen keagamaan pada sekitar abad ke-8 M, ketika peradaban Hindu-Buddha baru mulai marak berkembang. Dalam periode selanjutnya karya arsitektur Jawa Kuna mendapatkan jalannya tersendiri untuk berkembang, berlanjut, atau pun punah.</p>
<p>Kesejajaran yang dapat diamati adalah dalam hal konsepsi dasarnya saja, sedangkan dalam segi visualisasi untuk menjadi bentuk kebudayaan materi (bangunan, arca dan relief), terdapat perbedaan yang nyata. Dalam hal konsepsi keagamaan pun apabila dikaji lebih mendalam tetap ada perbedaan, bukankah visualisasi menjadi kebudayaan materi adalah cerminan dari konsepsi. Dengan demikian mengapa candi-candi di Jawa berbeda dengan kuil-kuil pemujaan dewa di India, hal itu sangat mungkin karena cerminan konsepsi yang berbeda pula.</p>
<p>Pengaruh agama dari India yang datang ke Jawa diolah lagi oleh para pendeta-pemikir Jawa Kuna, lalu muncul gagasan yang memadukan hakekat Siva-Buddha. Oleh karena ada perpaduan itu, maka peralatan ritusnya pun menjadi berbeda, tidak lagi sama dengan di tanah asalnya.</p>
<p>——————-</p>
<p>* Tulisan ini disampaikan pada acara SIMPOSIUM TENTANG IKATAN KEBUDAYAAN ANTARA INDONESIA DENGAN INDIA, yang diselenggarakan oleh Pusat Kebudayaan India Jawaharlal Nehru (Kedutaan Besar India) bekerja sama dengan Universitas Indonesia dan Bhaskara, di Auditorium Erasmus Huis Jakarta pada tanggal 30 Maret 2005.</p>
<p>PUSTAKA ACUAN</p>
<p>    * BERNET KEMPERS, A.J., 1959, Ancient Indonesian Art. Amsterdam: C.P.J.van Der Peet.<br />
    * BOSCH, F.D.K, 1924, “A Hypothesis as to the Origin of Indo-Javanese Art”, Rupam No.17.<br />
    * BRANDES, J.L.A., 1887, “Een Jayapattra of acte van eene rechterlijke uitspraak van Saka 849, TBG. Halaman 98—147.<br />
    * BROWN, PERCY, 1959, Indian Architecture (Buddhist and Hindu Periods). Bombay: D.B.Taraporevala Sons &amp; Co. Private Ltd.<br />
    * BUDIHARDJO, EKO, 1991, Architectural Conservation in Bali. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.<br />
    * CHIHARA, DAIGORO, 1996, Hindu-Buddhist Architecture in Southeast Asia. Studies in Asian Art and Archaeology Continuation of Studies in South Asian Culture. Leiden-New York-Koln: E.J.Brill.<br />
    * CHRISTIE, JAN WISSEMAN, 1999, “Asian Sea Trade between the Tenth and Thirteenth Centuries and Its Impact on the States of Java and Bali” dalam Himanshu Prabha Ray (editor), Archaeology of Seafaring: The Indian Ocean in the Ancient Period. Delhi: Pragati Publications.<br />
    * COOMARASWAMY, ANANDA K., 1985, History of Indian and Indonesian Art.<br />
      New York: Dover Publications, Inc.<br />
    * DUMARCAY, JACQUES, 1999, “Bentuk Kedua Candi Lumbung dan Candi Bima”, dalam Henri Chambert-Loir &amp; Hasan Muarif Ambary, Panggung Sejarah: Persembahan Kepada Prof.Dr.Denys Lombard. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi asional, Yayasan Obor Indonesia. Hlm.415—424.<br />
    * SUMADIO, BAMBANG (Penyunting), 1984, Sejarah Nasional Indonesia II: Jaman Kuna.Jakarta: Balai Pustaka.</p>
<p>      WIRJOSOEPARTO, SOETJIPTO, 1957, Seni Bangunan Kuno di Dieng. Jogjakarta: Kalimosodo.</p>
<p>Dr. Agus Aris Munandar<br />
Program Studi Arkeologi Indonesia<br />
Departemen Arkeologi-Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia</p>
<p>-Sumber: <a href="http://www.arkeologi.net/index1.php?id=view_news&amp;ct_news=608-">http://www.arkeologi.net/index1.php?id=view_news&amp;ct_news=608-</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/netsain.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/netsain.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/netsain.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/netsain.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/netsain.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/netsain.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/netsain.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/netsain.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/netsain.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/netsain.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/netsain.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/netsain.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/netsain.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/netsain.wordpress.com/193/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=netsain.wordpress.com&amp;blog=8075460&amp;post=193&amp;subd=netsain&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://netsain.wordpress.com/2009/10/10/kesejajaran-arsitektur-bangunan-suci-india-dan-jawa-kuna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/440730cfa0a74bf9ccf35cfe9831af3d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bind</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gaya arsitektur modern di Indonesia</title>
		<link>http://netsain.wordpress.com/2009/10/10/gaya-arsitektur-modern-di-indonesia/</link>
		<comments>http://netsain.wordpress.com/2009/10/10/gaya-arsitektur-modern-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 09:46:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bind</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://netsain.wordpress.com/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[Arsitektur modern tidak mengalami perkembangannya di Indonesia, karena sebagaimana gaya arsitektur lain yang diimpor dari negara-negara barat, gaya ini masuk ke Indonesia sebagai pengaruh globalisasi. Gaya arsitektur modern muncul sebagai gaya internasional yang cukup memiliki kemiripan di semua tempat, semua negara. Setidaknya, gaya modern tetap mengusung fungsi ruang sebagai titik awal desain. Di Indonesia, gaya <a href="http://netsain.wordpress.com/2009/10/10/gaya-arsitektur-modern-di-indonesia/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=netsain.wordpress.com&amp;blog=8075460&amp;post=189&amp;subd=netsain&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Arsitektur modern tidak mengalami perkembangannya di Indonesia, karena sebagaimana gaya arsitektur lain yang diimpor dari negara-negara barat, gaya ini masuk ke Indonesia sebagai pengaruh globalisasi. Gaya arsitektur modern muncul sebagai gaya internasional yang cukup memiliki kemiripan di semua tempat, semua negara. Setidaknya, gaya modern tetap mengusung fungsi ruang sebagai titik awal desain. Di Indonesia, gaya modern dipandang sebagai gaya dimana fungsi ruang juga merupakan titik awal desain.</p>
<p>Gaya modern adalah gaya yang simple, bersih, fungsional, stylish, trendy, up-to-date yang berkaitan dengan gaya hidup modern yang sedang berkembang pesat. Gaya hidup modern ditopang oleh kemajuan teknologi, dimana banyak hal yang sebelumnya tidak bisa dibuat dan didapatkan menjadi tersedia bagi banyak orang.</p>
<p><span id="more-189"></span><br />
Dalam gaya hidup modern, masyarakat didalamnya cenderung menyukai hal-hal yang mudah dan cepat, karena berbagai alat dibuat secara industrial untuk kemudahan manusia. Sifat dasar gaya hidup modern adalah tuntutan untuk bergerak dan melakukan segala sesuatu dengan lebih cepat, yang didukung oleh teknologi dan industrialisasi. Teknologi dikembangkan untuk membuat pekerjaan dan kehidupan sehari-hari lebih cepat dan mudah, misalnya perkembangan teknologi informasi yang memudahkan manusia berkomunikasi menggunakan alat semacam telepon dan komputer.</p>
<p>Kualitas dan kecepatan menjadi hal yang penting dalam gaya hidup modern, sehingga terdapat kecenderungan untuk melihat nilai benda-benda berdasarkan besar fungsi atau banyaknya fungsi benda tersebut, serta berdasarkan kesesuaiannya dengan gaya hidup yang menuntut serba cepat, mudah dan fungsional.</p>
<p>Dalam arsitektur, gaya hidup modern berimbas kepada keinginan untuk memiliki bangunan yang simple, bersih dan fungsional, sebagai simbol dari semangat modern. Namun, gaya hidup semacam ini hanya dimiliki oleh sebagian masyarakat saja, terutama yang berada di kota besar, dimana kehidupan menuntut gaya hidup yang lebih cepat, fungsional dan efisien.</p>
<p>Di Indonesia, gaya modern yang diterapkan terkadang masih memiliki unsur-unsur estetika yang diusung dari gaya klasik ataupun etnik, sedangkan sebagian lagi telah memenuhi kaidah desain modern murni. Masih sering didengar istilah arsitektur klasik modern, arsitektur modern etnik, arsitektur tradisional modern, arsitektur bali modern, dan sebagainya. Di Indonesia, terdapat kecenderungan untuk memasukkan unsur tradisi ornamen yang menjadikannya sebuah kategori arsitektur yang ambigu, apakah modern, ataukah postmodern?</p>
<p>Untuk menyebut gaya modern yang berornamen tersebut sebagai gaya modern murni bukanlah hal yang tepat, lagipula proses berkembang gaya ini tidak terjadi di Indonesia. Untuk menyebutnya sebagai gaya postmodern, apalagi, di Indonesia bahkan istilah ini cenderung dihindari untuk menghindari ketidak-fahaman masyarakat. Sehingga gaya arsitektur modern di Indonesia akan muncul sebagai gaya khas &#8220;Modern Indonesia&#8221; dengan karakter sebagai berikut:</p>
<p>q Memiliki perhatian yang besar terhadap fungsi ruang, yang didapatkan dari pola aktivitas penghuni<br />
q Memiliki perhatian yang besar terhadap material bangunan yang digunakan untuk mendapatkan hasil akhir (estetika) yang diinginkan<br />
q Memiliki analogi mesin dalam penataan dan pengembangan ruang-ruang<br />
q Menghindari ornamen (bila murni gaya modern), atau menggunakan ornamen (bila postmodern, atau diberi embel-embel semacam: arsitektur modern etnik, arsitektur modern Bali, dan sebagainya)<br />
q Penyederhanaan bentuk dan ornamentasi dan penghilangan detail yang &#8216;tidak diperlukan&#8217; sejauh keinginan desainer (atau pemilik bangunan)</p>
<p>copy right : <a href="http://astudioarchitect.com/2008/08/gaya-arsitektur-modern-di-indonesia.html">www.astudio.id.or.id</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/netsain.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/netsain.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/netsain.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/netsain.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/netsain.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/netsain.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/netsain.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/netsain.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/netsain.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/netsain.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/netsain.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/netsain.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/netsain.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/netsain.wordpress.com/189/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=netsain.wordpress.com&amp;blog=8075460&amp;post=189&amp;subd=netsain&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://netsain.wordpress.com/2009/10/10/gaya-arsitektur-modern-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/440730cfa0a74bf9ccf35cfe9831af3d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bind</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JALAN MH THAMRIN, RIWAYATMU KINI</title>
		<link>http://netsain.wordpress.com/2009/10/06/jalan-mh-thamrin-riwayatmu-kini/</link>
		<comments>http://netsain.wordpress.com/2009/10/06/jalan-mh-thamrin-riwayatmu-kini/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 02:04:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bind</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://netsain.wordpress.com/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[SEBAGAI jalan utama Kota Jakarta, keberadaan Jalan MH Thamrin tidaklah semegah fungsi yang disandangnya. Kehadiran ruang pejalan kaki yang lebih manusiawi dan aman di sepanjang kedua sisi Jalan MH Thamrin masih tetap menjadi mimpi bagi warga Jakarta. PEDESTRIAN atau ruang pejalan kaki merupakan salah satu urat nadi bagi sebuah kota. Ketidaknyamanan pedestrian yang seharusnya disediakan <a href="http://netsain.wordpress.com/2009/10/06/jalan-mh-thamrin-riwayatmu-kini/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=netsain.wordpress.com&amp;blog=8075460&amp;post=180&amp;subd=netsain&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SEBAGAI jalan utama Kota Jakarta, keberadaan Jalan MH Thamrin tidaklah semegah fungsi yang disandangnya. Kehadiran ruang pejalan kaki yang lebih manusiawi dan aman di sepanjang kedua sisi Jalan MH Thamrin masih tetap menjadi mimpi bagi warga Jakarta.</p>
<p>PEDESTRIAN atau ruang pejalan kaki merupakan salah satu urat nadi bagi sebuah kota. Ketidaknyamanan pedestrian yang seharusnya disediakan pemerintah setempat sudah cukup menggambarkan (penguasa) kota tidak berpihak kepada warga kotanya. Pedestrian yang merupakan salah satu bagian dari ruang jalan juga berfungsi sebagai ruang terbuka umum yang dapat menaikkan citra bagi kawasan kota.</p>
<p>Sudah banyak contoh kota di dunia yang memiliki ruang pejalan kaki cukup lebar, nyaman dilalui, dan aman dari gangguan maupun tindak kekerasan. Seperti Kota Paris dengan Champs Elysees dan Singapura dengan Orchard Road. Bahkan, Kota Jakarta pun sudah memiliki satu contoh yaitu di kawasan bisnis terpadu Mega Kuningan, tetapi hebatnya hal itu dilakukan pihak swasta.</p>
<p><span id="more-180"></span><br />
Tidak ada yang meragukan lagi nilai penting jalan ini sejak mulai dibuka pada dekade tahun 1950-an untuk menghubungkan pusat kota (seputar Jalan Medan Merdeka) dengan kota satelit Kebayoran Baru. Ini merupakan keputusan sangat strategis dalam pengembangan sebuah ibu kota negara yang baru saja merdeka. Hadirnya ruas jalan ini sangat membantu pemekaran wilayah yang akan dibangun dan menggantikan poros lama Jakarta Kota–Monas–Senen–Salemba-Jatinegara dengan poros baru Jakarta Kota–Monas–Thamrin–Sudirman–Kebayoran hingga sekarang.</p>
<p>Ragam arsitektur</p>
<p>Banyak orang tidak menyadari kekayaan ragam arsitektur di sepanjang kedua sisinya. Bangunan dengan arsitektur berkualitas dari beberapa generasi menghiasi jalan ini seiring perkembangan wajah kota.</p>
<p>Dari arah Monumen Nasional, ruas jalan ini disambut dengan bundaran Air Mancur dan dua gedung yang dibangun pada awal kemerdekaan: Gedung Bank Indonesia (BI) dan Gedung Departemen Sumber Daya Alam. Gedung BI merupakan salah satu bangunan yang dirancang Arsitek F Silaban, berarsitektur tropis modern yang khas.</p>
<p>Bundaran Selamat Datang atau lebih dikenal dengan Bundaran Hotel Indonesia ditandai dengan hadirnya Hotel Indonesia yang merupakan hotel bertingkat tinggi pertama di Indonesia. Di seberangnya juga terdapat gedung perkantoran Wisma Nusantara yang merupakan gedung berkonstruksi baja pertama di Indonesia. Keduanya dibangun pada dekade tahun 1960-an dan memakai sumber dana pampasan perang yang sama.</p>
<p>Pusat perbelanjaan pertama Sarinah hadir di jalan ini, juga pada dekade tahun 1960-an. Kehadiran Jakarta Theatre sebagai bioskop pun menambah semarak hidup jalan ini. Dalam dekade tahun 1980-an Plaza Indonesia mulai dibangun, menambah alternatif tempat belanja dan rekreasi alternatif di Jalan MH Thamrin. Dan sekarang juga terlihat pembangunan pengembangan Plaza Indonesia yang hadir dengan warna solid primer.</p>
<p>Gedung perkantoran pun tumbuh pesat selama dekade 1980-an hingga 1990-an. Dari Menara Cakrawala, Gedung ATD, Menara BII, hingga Gedung Deutsche Bank. Dari ragam fasad bangunan yang ada dapat dilihat periode gedung itu dibangun.</p>
<p>Pesatnya pertumbuhan wajah kota sepanjang ruas jalan ini sayangnya tidak diikuti dengan peningkatan kualitas ruang luar di sekitarnya. Hal ini yang sempat menyebabkan tingkat nilai sewa ruang menurun.</p>
<p>Keinginan mengangkat citra kawasan pun bergulir, berawal dari ide memperbaiki kualitas ruang pejalan kaki oleh arsitek M Danisworo (1988) hingga panduan penataan ruang luar (urban-design guidelines) di seputar kawasan Jalan MH Thamrin oleh arsitek Budi Lim (1997).</p>
<p>KONSEP bentuk ruang jalan untuk Jalan MH Thamrin diarahkan membentuk huruf U. Median jalan memakai jenis lanskap rendah berupa perdu dan pohon ukuran sedang dan di kedua sisi jalan menggunakan lanskap tinggi berupa pohon besar dan palem. Ini berbeda dari ruas Jalan Jenderal Sudirman yang berbentuk huruf W sehingga pada median jalannya dipenuhi pepohonan.</p>
<p>Pembenahan lanskap kota menjadi hal awal yang dapat dilakukan sebagai upaya menghijaukan dan meneduhkan kawasan ruas jalan ini. Penataan lanskap di sekitar median jalan sudah dilakukan. Sayangnya, penataan lanskap di kedua sisi jalan masih mendapat kendala sehingga belum terlihat bentuk ruang jalan yang diinginkan.</p>
<p>Pedestrian yang lebar, sekitar delapan meter, menjadi salah satu upaya peningkatan kualitas lingkungan di kawasan ini. Empat meter sebagai jalur pedestrian yang menerus dan dua meter di kedua sisinya sebagai jalur transisi. Pada jalur inilah ditempatkan pepohonan maupun fungsi penunjang seperti bangku, lampu pedestrian, tempat sampah, telepon umum, maupun kios kaki lima.</p>
<p>Penggabungan jalur masuk-keluar kavling bagi kendaraan dilaksanakan sebagai upaya mengurangi hambatan bagi para pejalan kaki, diikuti dengan pengaturan ulang sistem sirkulasi kendaraan antarkavling dan sistem parkir bersama yang memungkinkan untuk lintas kavling.</p>
<p>Untuk meningkatkan nilai sewa dan menghidupkan kawasan selama 24 jam, tiap kavling diperkenankan melakukan perubahan fungsi kegiatan pada dua lantai pertama, ruang antara gedung hingga pedestrian dan basement sebagai fungsi komersial.</p>
<p>Penataan ruang luar area belakang kawasan, di sisi barat akan dikembangkan sebagai promenade tepi air (river-walk) dan di sisi timur berpotensi dikembangkan sebagai kawasan pusat jajan (kaki lima-walk).</p>
<p>PROYEK transportasi umum yang sering berubah terkadang dapat merugikan perencanaan penataan ruang luar yang ada. Rencana bussway misalnya, halte yang dipakai sistem ini akan memakai lahan median jalan yang saat ini sudah selesai ditata.</p>
<p>Tidak amannya para pejalan kaki juga masih menjadi salah satu kendala bagi Jalan MH Thamrin untuk berbenah. Seringnya pencopetan yang terjadi, termasuk terhadap penulis, harus menjadi tugas pemerintah provinsi bekerja sama dengan kepolisian daerah untuk menyelesaikan.</p>
<p>Menghadirkan pedestrian yang nyaman memang tidak dapat berjalan sendiri, banyak faktor lain yang harus saling mendukung. Niat baik bersama perlu diwujudkan oleh pemerintah provinsi, perencana, maupun para pemilik kavling. Kejelasan informasi bagi pemilik kavling, jaminan keamanan, maupun insentif pajak perlu dikemukakan mengingat ada sebagian lahan pemilik kavling yang akan digunakan sebagai fungsi publik menuju ruang pejalan kaki yang lebih manusiawi dan aman.</p>
<p>Oleh : Aditya W Fitrianto Arsitek, pemerhati arsitektur dan kota di Jakarta.<br />
COPY RIGHT ; <a href="http://www.silaban.net/2003/09/14/jalan-mh-thamrin-riwayatmu-kini/">http://www.silaban.net</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/netsain.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/netsain.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/netsain.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/netsain.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/netsain.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/netsain.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/netsain.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/netsain.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/netsain.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/netsain.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/netsain.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/netsain.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/netsain.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/netsain.wordpress.com/180/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=netsain.wordpress.com&amp;blog=8075460&amp;post=180&amp;subd=netsain&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://netsain.wordpress.com/2009/10/06/jalan-mh-thamrin-riwayatmu-kini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/440730cfa0a74bf9ccf35cfe9831af3d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bind</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FENOMENA ARSITEKTUR GEDUNG TINGGI</title>
		<link>http://netsain.wordpress.com/2009/10/06/fenomena-arsitektur-gedung-tinggi/</link>
		<comments>http://netsain.wordpress.com/2009/10/06/fenomena-arsitektur-gedung-tinggi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 01:54:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bind</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://netsain.wordpress.com/?p=177</guid>
		<description><![CDATA[Pertumbuhan gedung-gedung tinggi atau gedung pencakar langit (Skyscraper) merupakan indikator dari pertumbuhan kota (negara) baik secara ekonomi, sosial maupun budaya, sehingga mendominasi wajah suatu kota, tak terkecuali dengan kota-kota yang ada di Indonesia. Kelahiran gedung-gedung tinggi tersebut adalah akibat perkembangan kebutuhan akan ruang-ruang untuk beraktifitas yang terus meningkat sedangkan lahan yang tersedia adalah tetap serta <a href="http://netsain.wordpress.com/2009/10/06/fenomena-arsitektur-gedung-tinggi/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=netsain.wordpress.com&amp;blog=8075460&amp;post=177&amp;subd=netsain&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertumbuhan gedung-gedung tinggi atau gedung pencakar langit (Skyscraper) merupakan indikator dari pertumbuhan kota (negara) baik secara ekonomi, sosial maupun budaya, sehingga mendominasi wajah suatu kota, tak terkecuali dengan kota-kota yang ada di Indonesia. Kelahiran gedung-gedung tinggi tersebut adalah akibat perkembangan kebutuhan akan ruang-ruang untuk beraktifitas yang terus meningkat sedangkan lahan yang tersedia adalah tetap serta memusatnya kegiatan ekonomi pada suatu kawasan (Central Business District) mengakibatkan pertumbuhan kota secara vertikal.</p>
<p>Solusi seperti ini selain akan mempersingkat jarak, juga mempersingkat waktu. Kelahiran gedung-gedung tinggi merupakan suatu revolusi arsitektur yang ditunjang dengan kemajuan teknologi dan tetap berpedoman kepada prinsip dasar arsitektur yaitu ruang bentuk dan fungsi sehingga memenuhi syarat untuk ditempati (habitation).</p>
<p>Secara garis besar perkembangan gedung-gedung tinggi dapat dikelompokkan pada Periode Sebelum Perang Dunia II dengan stream Fungsionalism, Gaya Eklektik, Gaya Art-Deco dan Periode Setelah Perang Dunia II dengan stream The International Style, Gaya Post-Modern.<br />
Pengelompokan ini didasarkan atas perubahan yang sangat signifikan baik pada perwajahan arsitektur maupun dalam penerapan teknologi konstruksinya.</p>
<p><span id="more-177"></span><br />
Perkembangan gedung-gedung tinggi ini juga ditunjang oleh teknologi yang lahir sebelumnya yaitu dengan ditemukannya Elevator oleh Elisha Graves Otis pada tahun 1852 dan juga dengan ditemukannya konverter baja rancangan Sir Henry Bessemer tahun 1856 yang mampu menekan biaya struktur baja. Walaupun baja telah populer sebagai konstruksi pada tahun 1830. dan digunakan sebagai konstruksi jembatan pertama kali pada tahun 1777 pada ‘The Ironbridge’, di Coalbrookdale, disungai Severn, Shropshire, Inggris yang dibangun oleh Abraham Darby.</p>
<p><strong>PERIODE SETELAH PERANG DUNIA II</strong></p>
<p>Ketika terjadi Perang Dunia II (1940-1950), era pembangunan gedung-gedung tinggi juga terhenti. Selain menghancurkan perekonomian juga membawa perubahan terhadap wajah dunia pada pasca perang tersebut.<br />
Penampilan bangunan menjadi lebih sederhana dengan bentuk kubus dengan rangka bangunan yang diselimuti gelas dan miskin ornamen (hampir tidak ada), yang terlihat hanya garis-garis vertikal dan horizontal yang kaku dan oleh Bruno Taut dikatakan sebagai karya gambar anak-anak.</p>
<p>Dimulai dengan bangunan ‘Lever House’, karya arsitek Gordon Bunshaft (1952) dan diikuti oleh bangunan terkenal ‘Seagram Building’, di New York, karya arsitek Mies Van Der Rohe dan Philip Johnson dengan ketinggian 38 lantai. Mies van der Rohe adalah arsitek imigran Jerman dan dianggap sebagai pencetus ideologi baru dari penampilan arsitektur yang fungsional dan ekonomis sebagai inspirasi dari Bauhaus yang didirikan Walter Gropius di kota Wiemar, Jerman, tahun 1919 dan ketika pindah ke kota Dessau tahun 1926, Mies van der Rohe pernah menjadi direktur Bauhaus (1930-1932).</p>
<p>Penampilan bangunan dengan bentuk ini mengakibatkan terjadinya persamaan bentuk dan menimpa negara-negara yang baru merdeka sehingga lahirlah karakter kolektif pada kota-kota dinegara berkembang, tak terkecuali dengan Indonesia. Sehingga gaya tersebut disebut sebagai ‘The International Style’ &#8211;terminologi ini dipopulerkan oleh Henry-Russell Hitchcock bersama Philip Johnson pada pameran Arsitektur Modern di “The Museum of Modern Art’, di New York tahun 1932&#8211; dengan ungkapan “Less is More”.</p>
<p>‘The International Style’ adalah anak kandung dari aliran arsitektur Modern dengan ideology “Form, Follow, Function”-nya. Gaya arsitektur ini telah menjadi rezim arsitektur sampai awal tahun 1980-an, terutama di Amerika Serikat dan negara-negara berkembang lainnya. Gaya seperti ini tidak terlalu mendapat tempat di kota-kota Eropa yang umumnya adalah kota-kota tua yang memiliki sejarah yang panjang mengenai seni dan gaya dalam arsitektur, serta masyarakatnya sangat apresiatif dan memiliki pemahaman mengenai ‘histori’ kotanya. Sehingga tidak mudah untuk menghancurkan sebuah bangunan dan diganti dengan bangunan baru yang lebih tinggi.</p>
<p>Hal ini yang perlu dipelajari oleh masyarakat dan pengambil kebijakan di Indonesia, karena kota-kota di Indonesia juga banyak memiliki sejarah dalam seni dan gaya arsitektur. Bangunan ‘Palace of Culture and Science’, di Warsawa, Polandia (1955), karya arsitek Rusia, Lev Rudnyer dengan ketinggian 42 lantai merupakan bangunan pada awal periode ini yang tidak terpengaruh sama sekali oleh ‘International Style’ tetapi lebih terinspirasi oleh bangunan ‘Wringley Building’, di Chicago, karya arsitek Graham, Anderson, Probst and White, yang banyak memakai ornamen dari Renaissance.</p>
<p>Pada awal 1970-an sudah mulai terjadi perlawanan terhadap ‘International Style’ dengan bangunan yang tidak lagi sekedar berbentuk kubus kaca, tetapi sudah mulai ‘ilmu bentuk’ bangunan dipakai kembali.<br />
Penentangan tersebut dideklarasikan dengan matinya aliran ‘Arsitektur modern’ di St, Louise, Missouri pada penghancuran gedung ‘Pruitt-Igoe Housing’, St. Louise, karya arsitek Minoru Yamasaki pada tanggal 15 juli 1972, maka dimulailah era arsitektur bergaya ‘Post-Modern’.</p>
<p>Gaya arsitektur Post-Modern ini benar-benar menonjol pada awal 1980-an dan masih berlangsung sampai sekarang. Gaya ini lahir dari kerinduan akan arsitektur yang lebih humanis dan kembali menghargai sejarah seni bangunan pada zaman sebelum arsitektur modern seperti Medieval, Renaissance, Classic, Barroq yang dalam penampilannya memakai konteks ‘kekinian’ dan memasukan unsur warna pada selimut bangunan dan terjadi sedikit pembalikan pada tingkat perwajahan dari kaidah-kaidah struktur yang seolah-olah mengolok-olok hukum grafitasi.</p>
<p>Pada periode bangunan tinggi bergaya ‘Post-modern’ ini terdapat<br />
beberapa tokoh arsitek dengan bangunan terkenalnya antara lain ‘AT&amp;T Building’, di New York (1985) karya arsitek Philip Johnson dengan ketinggian 37 lantai dengan inspirasi Renaissance yang menggunakan granit pinkis pada selimut bangunan. ‘Wacker Drive’, di Chicago (1983)karya arsitek William Pederson dari biro arsitek KPF (Kohn, Pederson &amp; Fox) yang merupakan sebuah bangunan yang elegan dipinggir sungai Chicago. Salah satu karya dari kelompok KPF ini adalah ‘Bank Niaga Hedquarters” di Jl. Sudirman, Jakarta yang berassosiasi dengan salah satu konsultan di Jakarta.</p>
<p><strong>ARSITEKTUR GEDUNG TINGGI DI INDONESIA</strong></p>
<p>Arsitektur gedung tinggi di Indonesia sebagaimana dengan negara-negara berkembang lainnya yang baru merdeka pada pertengahan abad 20, dimulai pada periode arsitektur &#8220;International Style&#8221;.<br />
Bangunan tinggi pertama di Indonesia adalah &#8220;Hotel Indonesia&#8221;, di Jakarta (1959) karya arsitek Amerika Abel Sorensen dan Wendy Sorensen yang penggunaannya diresmikan tanggal 5 Agustus 1962, serta &#8220;Wisma Nusantara&#8221;, di Jakarta, karya arsitek Jepang dengan ketinggian 30 lantai dengan menerapkan teknologi tahan gempa.</p>
<p>Kedua bangunan ini terletak berseberangan pada bundaran air Tugu Selamat Datang (Bundaran HI) dan merupakan titik awal dari perkembangan gedung-gedung tinggi di Indonesia. Dengan dibangunnya Jl. Jend. Sudirman pada awal 1960-an terjadi perkembangan gedung-gedung tinggi pada koridor Jl. Jend. Sudirman dan Jl. M.H. Thamrin pada awal 1970-an.<br />
Begitu juga dengan Jl. H.R. Rasuna Said yang dibangun pada tahun 1970-an. Sebagaimana dengan negara-negara berkembang lainnya, pertumbuhan gedung-gedung tinggi yang mendominasi wajah kota dilaksanakan tanpa kendali sehingga bangunan yang hadir kurang memiliki pemahaman terhadap kondisi sosial, budaya dan ekonomi masyarakatnya.</p>
<p>Hal ini terus berlangsung dan mencapai puncaknya pada tahun 1989-an dan mendadak terhenti pada pertengahan 1997 karena krisis ekonomi yang masih berlangsung sampai sekarang. Ternyata keberadaan gedung-gedung tinggi terutama di Jakarta, Bandung dan Surabaya sangat berperan dalam mengantarkan kita pada krisis yang berkepanjangan.<br />
Sekali lagi membuktikan bahwa arsitektur bisa menjadi simbol kemakmuran suatu negara tapi juga bisa sebagi simbol kehancuran/bangkrut. Dan kita ditakdirkan pada pilihan yang terakhir.</p>
<p>COPY RIGHT ; <a href="http://forumbebas.com/thread-59409.html">http://forumbebas.com/thread-59409.html</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/netsain.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/netsain.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/netsain.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/netsain.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/netsain.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/netsain.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/netsain.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/netsain.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/netsain.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/netsain.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/netsain.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/netsain.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/netsain.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/netsain.wordpress.com/177/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=netsain.wordpress.com&amp;blog=8075460&amp;post=177&amp;subd=netsain&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://netsain.wordpress.com/2009/10/06/fenomena-arsitektur-gedung-tinggi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/440730cfa0a74bf9ccf35cfe9831af3d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bind</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tampilan Baru Windows XP</title>
		<link>http://netsain.wordpress.com/2009/08/16/tampilan-baru-windows-xp/</link>
		<comments>http://netsain.wordpress.com/2009/08/16/tampilan-baru-windows-xp/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Aug 2009 05:22:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bind</dc:creator>
				<category><![CDATA[windows XP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://netsain.wordpress.com/2009/08/16/tampilan-baru-windows-xp/</guid>
		<description><![CDATA[Bagi yang menggunakan Windows XP dan mungkin merasa bosan dengan tampilan seperti itu, saat ini tersedia berbagai program yang bisa mengubah hampir semua tampilan windows. Ketika awal-awal muncul Windows Vista, populer dengan tampilan Vista, sehingga muncul software semisal Vista Transformation Pack. Belum lama direncanakan akan muncul windows 7, dan pengguna windows XP pun bisa merasakan <a href="http://netsain.wordpress.com/2009/08/16/tampilan-baru-windows-xp/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=netsain.wordpress.com&amp;blog=8075460&amp;post=128&amp;subd=netsain&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://cadstudio.files.wordpress.com/2009/06/xp-ubuntu-mac-win7-icon.jpg?w=500" alt="xp-ubuntu-mac-win7-icon" title="xp-ubuntu-mac-win7-icon"   class="alignleft size-full wp-image-88" /></p>
<p>Bagi yang menggunakan Windows XP dan mungkin merasa bosan dengan tampilan seperti itu, saat ini tersedia berbagai program yang bisa mengubah hampir semua tampilan windows. Ketika awal-awal muncul Windows Vista, populer dengan tampilan Vista, sehingga muncul software semisal Vista Transformation Pack.</p>
<p>Belum lama direncanakan akan muncul windows 7, dan pengguna windows XP pun bisa merasakan tampilan Windows 7 ini tanpa harus menginstall Windows 7 sendiri. Kita juga bisa mengubah tampilan XP menjadi Ubuntu Linux atau Mac OS X.</p>
<p>1. Windows Vista</p>
<p><img src="http://cadstudio.files.wordpress.com/2009/06/xp-to-vista.jpg?w=300&#038;h=120" alt="xp-to-vista" title="xp-to-vista" width="300" height="120" class="alignnone size-medium wp-image-89" /><br />
Untuk mengubah tampilan windows XP ke Vista, sepertinya sudah banyak yang menyediakan. Salah satu yang pernah saya coba adalah Vista Transformation Pack, dan memang tidak begitu memberatkan kinerja komputer. Menurut megaleecher yang telah me-review beberapa program sejenis, yang tebaik adalah Vista Skin Pack 5.0.</p>
<p><span id="more-128"></span><br />
Disana dikatakan bahwa ini merupakan salah satu transformation pack yang terkecil dan paling rendah menggunakan resource komputer. Perubahan terdapat di berbagai tempat, seperti icon, animasi, gambar, menu, kelakuan dan sebagainya. Bisa di install di Windows XP SP1/SP2/SP3, Media Center Edition atau Windows 2003. Selain itu ada menu restore untuk mengembalikan ke tampilan semula.</p>
<p><a href="http://rapidshare.com/files/182720210/Vista-Skin-Pack-5.0.exe">Download Vista Skin Pack 5.0 ( 34.9 MB) via megaleecher</a><br />
2. Windows 7</p>
<p><img src="http://cadstudio.files.wordpress.com/2009/06/windows_7.jpg?w=300&#038;h=107" alt="windows_7" title="windows_7" width="300" height="107" class="alignnone size-medium wp-image-90" /><br />
Meski Windows 7 versi final belum di rilis, jika ingin merasakan dan melihat bagaimana tampilan XP/Vista yang mirip Windows 7 bisa menggunakan “Windows 7 Desktop Theme”. Karena Informasi detail tentang Windows 7 sendiri belum selesai, maka mungkin tampilan ini agak mirip Vista, dengan beberapa perubahan. Tetapi jika ingin lebih lengkap bisa mencoba “Windows Vienna Transformation Pack”</p>
<p>Untuk Windows 7 theme mungkin hanya mengubah beberapa tampilan utama saja, sedangkan Windows 7/Vienna Transformation Pack lebih komplek, mencakup : Vienna Navigator, Cool Superbar, Windows 7 Visual Styles, Sounds, Windows 7 wallpapers, Cursor Set, Windows Vienna, Logon Screen dan Windows Vienna Bootskin, sehingga ukurannya jauh lebih besar.</p>
<p><a href="http://www.megaleecher.net/uploads/Windows_7_M_%20VS_2.zip">Download Windows 7 Desktop Theme ( 5.12 MB)</a><br />
<a href="http://rapidshare.com/files/180931250/Vienna_Transformation_Pack_3.0.rar">Download Windows Vienna Transformation Pack (59.2 MB)</a></p>
<p>3. Ubuntu Linux</p>
<p><img src="http://cadstudio.files.wordpress.com/2009/06/xp-to-ubuntu.jpg?w=300&#038;h=232" alt="xp-to-ubuntu" title="xp-to-ubuntu" width="300" height="232" class="alignnone size-medium wp-image-91" /><br />
Windows dengan tampilan windows mungkin sudah biasa, tetapi dengan tampilan Linux mungkin masih jarang digunakan. Dengan Ubuntu customization pack, kita bisa mengubah tampilan windows XP menjadi tampilan Ubuntu.</p>
<p>Customization Pack ini akan mengubah banyak hal, seperti tampilan visual, icon, boot screen, cursor, tampilan Logon, Wallpaper, Screensaver, Ubuntu Sound, jam, 3D Desktop Manager dan lainnya.</p>
<p><a href="http://rapidshare.com/files/180931471/Ubuntu_Ultimate_Customization_Pack.zip">Download Ubuntu Customization Pack (26.1 MB)</a></p>
<p>4. Mac OS X</p>
<p><img src="http://cadstudio.files.wordpress.com/2009/06/mas-os-x-400.jpg?w=300&#038;h=113" alt="mas-os-x-400" title="mas-os-x-400" width="300" height="113" class="alignnone size-medium wp-image-92" /><br />
Sudah biasa dengan Linux atau Windows ? Mungkin tampilan Mac OS X bisa menyegarkan tampilan yang terasa membosankan. Dengan “Leopard Mods On XP” tampilan windows XP bisa di rombak total menyerupai tampilan Mac OS X.</p>
<p>Tidak seperti transformation pack lainnya, kalau ini tidak hanya sekedar theme / skin saja, tetapi mengubah beberapa file sistem inti windows, seperti explorer.exe, shell32.dll, mydocs.dll dan lainnya. Dan hanya berjalan untuk Windows XP SP2, English version. Jadi sebelum menggunakan software ini, pastikan untuk membackup data dan mempelajari instruksi yang dijelaskan didalamnya.</p>
<p>Untuk download silahkan buka link berikut dan klik menu Download bagian kiri, jika muncul gambar (sponsor) klik saja pojok kanan atas ” Click here to continue to deviantART deviantART” agar bisa download file yang dimaksud.</p>
<p><a href="http://kampongboy92.deviantart.com/art/Leopard-Mods-On-XP-66696721">Download Link (13.91 MB)</a></p>
<p>Perlu diperhatikan sebelum menginstall software-software diatas agar membaca petunjuk yang disertakan didalamnya dan dipahami dengan baik, termasuk permasalahan atau akibat yang mungkin timbul setelahnya dan cara mengatasinya.</p>
<p>Any question . . .  .????</p>
<p>COPYRIGHT &gt; &gt; &gt; <a href="http://www.ebsoft.web.id/">http://www.ebsoft.web.id/</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/netsain.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/netsain.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/netsain.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/netsain.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/netsain.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/netsain.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/netsain.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/netsain.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/netsain.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/netsain.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/netsain.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/netsain.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/netsain.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/netsain.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=netsain.wordpress.com&amp;blog=8075460&amp;post=128&amp;subd=netsain&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://netsain.wordpress.com/2009/08/16/tampilan-baru-windows-xp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/440730cfa0a74bf9ccf35cfe9831af3d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bind</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cadstudio.files.wordpress.com/2009/06/xp-ubuntu-mac-win7-icon.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">xp-ubuntu-mac-win7-icon</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cadstudio.files.wordpress.com/2009/06/xp-to-vista.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">xp-to-vista</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cadstudio.files.wordpress.com/2009/06/windows_7.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">windows_7</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cadstudio.files.wordpress.com/2009/06/xp-to-ubuntu.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">xp-to-ubuntu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cadstudio.files.wordpress.com/2009/06/mas-os-x-400.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">mas-os-x-400</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Animasi Status Yahoo Messenger Untuk WordPress Atau Blog</title>
		<link>http://netsain.wordpress.com/2009/08/15/animasi-status-yahoo-messenger-untuk-wordpress-atau-blog/</link>
		<comments>http://netsain.wordpress.com/2009/08/15/animasi-status-yahoo-messenger-untuk-wordpress-atau-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 08:34:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bind</dc:creator>
				<category><![CDATA[wordpress]]></category>
		<category><![CDATA[tutorial Wordpress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://netsain.wordpress.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Udah tau blum tampilan baru dari Status Yahoo Messenger?? Wahhh jangan mpe ketinggalan, ntar dicap nggak gaul, nggak funky dan nggak up to date, MAU?? wkwkwkkwk Tampilan status YM yang model gini …… atau duhh basi banget ngelietnya. Coba bandingkan dengan yang ini.. dan udah berwarna, bergerak pula. Kerenan yang mana, hayoo?? =D Kalau mau <a href="http://netsain.wordpress.com/2009/08/15/animasi-status-yahoo-messenger-untuk-wordpress-atau-blog/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=netsain.wordpress.com&amp;blog=8075460&amp;post=121&amp;subd=netsain&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Udah tau blum tampilan baru dari Status Yahoo Messenger??<br />
Wahhh jangan mpe ketinggalan, ntar dicap nggak gaul, nggak funky dan nggak up to date, MAU?? wkwkwkkwk<br />
Tampilan status YM yang model gini …… </p>
<p><img src="http://arkandas.files.wordpress.com/2009/07/online2.gif?w=125&amp;h=25" alt="" /> atau <img src="http://arkandas.files.wordpress.com/2009/07/offline2.gif?w=125&amp;h=25" alt="" /></p>
<p>duhh basi banget ngelietnya.<br />
Coba bandingkan dengan yang ini.. </p>
<p><img src="http://arkandas.files.wordpress.com/2009/07/indicator-3-online.gif?w=150&amp;h=75" alt="" /> dan <img src="http://arkandas.files.wordpress.com/2009/07/status-image-php.gif?w=150&amp;h=75" alt="" /></p>
<p>udah berwarna, bergerak pula.<br />
Kerenan yang mana, hayoo?? =D<br />
Kalau mau kalian tinggal klik situs ini <a href="http://www.freecustomize.com/">freecustomize</a><br />
<span id="more-121"></span><br />
<img src="http://arkandas.files.wordpress.com/2009/07/ym1.jpg?w=535&amp;h=401" alt="" /></p>
<p>Terus pilih deh salah satu ikon yang menurutmu menarik.. (STEP 2)<br />
Koq Cuma 5 gambar??<br />
tenaaang…coba tekan gambar panah ini.. (STEP 3) Liat hasilnya<br />
Isi ID YM-mu di kotak yang disediakan… (STEP 4)<br />
Trus KLIK GENERATE KODE (STEP 5)<br />
Copy deh kodenya ke blog kamu pakek widget text(STEP 6)</p>
<p>semoga bermanfaat . . .<br />
jagan lupa komen2 ya . . .</p>
<p>COPYRIGHT &gt; &gt; &gt; <a href="http://arkandas.wordpress.com/2009/07/20/animasi-status-ym-untuk-wordpress-blog/">http://arkandas.wordpress.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/netsain.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/netsain.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/netsain.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/netsain.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/netsain.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/netsain.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/netsain.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/netsain.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/netsain.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/netsain.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/netsain.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/netsain.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/netsain.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/netsain.wordpress.com/121/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=netsain.wordpress.com&amp;blog=8075460&amp;post=121&amp;subd=netsain&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://netsain.wordpress.com/2009/08/15/animasi-status-yahoo-messenger-untuk-wordpress-atau-blog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/440730cfa0a74bf9ccf35cfe9831af3d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bind</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://arkandas.files.wordpress.com/2009/07/online2.gif?w=125&#038;h=25" medium="image" />

		<media:content url="http://arkandas.files.wordpress.com/2009/07/offline2.gif?w=125&#038;h=25" medium="image" />

		<media:content url="http://arkandas.files.wordpress.com/2009/07/indicator-3-online.gif?w=150&#038;h=75" medium="image" />

		<media:content url="http://arkandas.files.wordpress.com/2009/07/status-image-php.gif?w=150&#038;h=75" medium="image" />

		<media:content url="http://arkandas.files.wordpress.com/2009/07/ym1.jpg?w=535&#038;h=401" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
